Makna Gereja menurut clan Mpur

TUGAS INDIVIDU TEOLOGI KONTEKSTUAL II

“MENJELASKAN MAKNA DAN KONSEP GEREJA DARI SUDUT PANDANG BUDAYA SUKU MPUR, KEBAR”













OLEH:
NAMA                 : CICILIA N. JAMBUANI
KELAS                : D (DELTA)
SEMESTER                  : VI (ENAM)
NIM                     : 14303 3003 15 1024


SEKOLAH TINGGI FILSAFAT TEOLOGI GEREJA KRISTEN INJILI
IZAAK SAMUEL KIJNE JAYAPURA
2018/2019



KATA PENGANTAR



Syalom!
Segala puji dan syukur kami kelompok panjatkan ke hadirat TUHAN yang maha kuasa atas kasih dan penyertaanNya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas dengan baik. Mata kuliah Teologi Kontekstual II merupakan mata kuliah yang sangat penting dan harus dikuasai bagi seseorang yang hendak menjadi pelayan TUHAN. Oleh karena itu penting bagi penulis untuk menjelaskan mengenai makna Gereja dalam konteks Masyarakat Mpur di Kebar. Tulisan ini masih jauh dari kesempurnaan karya ilmiah yang seharusnya namun kiranya dapat menjadi berkat bagi yang membacanya.
Penulis berharap apa yang kami sajikan dapat menambah wawasan kita semua dan untuk kepentingan penyebaran nama TUHAN dimuka bumi secara khusus di Tanah Papua dan tentunya penulis pun berharab agar kita sebagai calon pelayan TUHAN dapat siap sedia memberitakan Firman Tuhan dengan memanfaatkan apa yang ada sesuai dengan konteks pada daerah setempat.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada segala pihak yang telah menolong dan mendukung penulis dalam proses penyelesaian tugas ini. Kiranya kasih Yesus selalu menyertai dan memberkati kita sekalian. Amin.


                                                                                    Jayapura, 03 Juni 2018

                                                                                               
                                                                                        Cicilia N.Jambuani



DAFTAR ISI















BAB I

PENDAHULUAN

1.1            Latar Belakang
Gereja telah hadir ditengah-tengah dunia selama 2000 tahun lebih. Berbagai macam tantangan yang dihadapi oleh gereja adalah kesaksian nyata bahwa gereja berasal dari Tuhan, sebagai pemenuhan janji dari Kristus. Gereja semata-mata bukan organisasi manusia meskipun tidak bisa dipungkiri bahwa ada masa-masa dimana gereja dipimpin sehingga nyata didalamnya sebuah organisasi. Kadang-kadang gereja disebut dengan “Umat” atau “Jemaat” untuk menunjukkan kekhususan umat Allah. Pada era Globalisasi Gereja sering dipahami sebagai suatu perkumpulan orang-rang percaya yang dipanggil keluar dari kekafiran dan masuk didalam suatu persekutuan orang-orang percaya. Kata kekafiran yang dimaksudkan disini ialah bahwa mereka yang hidup dalam primitif kebudayaan dan dianggap tidak mengenal Tuhan. Gereja berkaitan erat dengan pengenalan akan Tuhan dimana Allah dikenal dan dihayati berdasarkan budaya orang Barat atau budaya Eropa. Namun jika dipahami dengan baik melalui pengkontekstualisasian Injil ternyata ditemukan bahwa pemahaman tentang Allah telah ada dalam setiap budaya hidup dan menyatu serta mendarah daging bagi penganut budaya dan kepercayaan itu. Termasuk juga bagian yang hendak dikaji pada Bab ini. Bagaimana memaknai Gereja dari budaya dengan melihat unsur-unsur Kegerejaan sebagai patokan pengkontekstualisasian. Makna Gereja menurut budaya akan di kaji berdasarkan budaya Suku Mpur, Kebar. Dimana orang Mpur menganggap Gereja (dalam konteks) sebagai tempat dimana kehidupan manusia diekspresikan dengan tujuan menghayati persekutuan dengan Allah yang dipercayai dan Sesama serta Alam semesta selaku ciptaan Tuhan yang dianggap sebagai kaka tertua sebelum manusia.

1.2            Tujuan Penulisan
Penulisan makalah ini bertujuan untuk: Menggali makna Gereja pada suatu kebudayan tertentu khususnya budaya Suku Mpur di Kebar dan melihat keselarasannya dengan makna Gereja yang di pahami selama ini.


BAB II

MAKNA DAN KONSEP GEREJA DARI SUDUT PANDANG BUDAYA SUKU MPUR, KEBAR


2.1. Pengertian Gereja
1.      Makna Gereja secara Umum
Gereja berasal dari bahasa Portugis “Igreya” yang dibawah oleh misionaris ratusan tahun yang lalu ke Indonesia. Kata “Igreya” merupakan kata ejaan lain untuk kata Ecclesia yang berakar dari bahasa Yunani ekklesia. Kata ini berarti kumpulan atau pertemuan, rapat. Meskipun demikian Gereja bukan sembarang perkumpulan melainkan kelompok orang-orang yang sangat khusus.
2.      Makna Gereja Bagi Orang Mpur
Gereja terkadang dipahami sebagai “gedung” atau “rumah”. Dimana ada banguna fisik yang nyata yang dapat dilihat dan dirasakan. Dalam bahasa Mpur “Jan” yang artinya rumah, tempat keluarga berteduh dan seluruh aktivitas berlangsung. sementara kata “janadi” menunjuk pada tempat yang dianggap khusus untuk beribadah kepada Allah yang dipercayai. Meskipun kedua kata ini berbeda namun, memiliki arti yang sama yaitu “Rumah tempat bernaung dari rasa benci, dari perkelahian antar suku, dari panasnya matahari dan hujan, juga dari seluruh kata-kata kotor yang menjatuhkan, serta terjadi perjumpaan antara Allah dan Keluarga melalui Ekspresi kehidupan budaya.” Intinya adalah bahwa “Jan/Janadi” adalah tempat yang aman untuk kehidupan orang Mpur berlangsung.

2.2.         Unsur-unsur yang Terkandung didalam Gereja dan “Jan/Janadi”.
Unsur-unsur yang terkandung didalam gereja sebagai berikut:
1.      Makna persekutuan
Terjadi persekutuan antara umat Allah dan Keluarga serta adanya saling mengasihi dan memiliki antara anggota keluarga yang adalah jemaat Allah.
2.      Medan perjumpaan antara Allah dan Manusia
Sebagai sarana dimana Allah bertemu dengan manusia dan manusia menjalin hubungan serta hidup bergaul dengan Allah.
3.      Suatu keutuhan utuh dengan Alam Ciptaan
Ada bunga, ada hewan peliharaan yang dipelihara serta ada tanaman yang diolah menjadi sumber makanan bagi manusia. Bukti bahwa penghayatan akan ciptaan Allah yang harus di jaga leh manusia dihayati dengan baik.
4.      Tempat pengekspresian damai,sukacita, dan kebahagian, serta kesedihan.
5.      Tempat Kerajaan Allah dinyatakan
Allah dapat mengahdirkan kerjaanNya ditengah-tengah persekutuan yang menjadi milikNya. Yaitu terdapat unsur-unsur pada point 4 di atas.
6.      Terdapat umat Allah yang beribadah kepada Tuhan.
7.      Tempat dimana seluruh ajaran berlangsung.
Seluruh ajaran yang baik terjadi didalam “Jan/Janadi” begitu juga Gereja.
8.      Sebagai badan sosial untuk menolong orang lain.
Pelayana antara sesam terjadi. Jika salah seorang berhasil mendapat hasil buruan maka dari “Jan/Janadi” berkat itu akan tersebar bagi keluarga-keluaraga dan tetang—tetangga disekitar.
9.      Sebagai keluarga Allah

2.3.    Perbedaan dan Persamaan yang Terkandung dalam gereja
Perbedaan yang paling menjolok ialah bahwa “Gereja” hanya didatangi setiap hari minggu dan hari-hari tertentu saja. Sedangkan “Jan/Janadi” merupakan tempat dimana setiap menit dan detik penghayatan akan Allah itu berlansung. Tidak bermaksud memberatkan unsur kebudayaan namun, begitulah adanya. “Jan/Janadi” sebagai tempat perjumpaan antara Allah dan manusia yang paling nyata. Ketika masyarakat Mpur kembali dari segala aktivitas di kebun dan tiba dengan selamat di “Jan/Janadi” nama Tuhan dipuji dan dimuliakan dengan tulus disbanding dengan pada hari Minggu dan di “Gereja”.




BAB III

PENUTUP


3.1. Kesimpulan
  “Jan/Janadi” juga merupakan Gereja yang nyata dalam keluarga. Makna ini perlu dijelaskan bagi keluarga suku Mpur agar mereka memahami makna Gereja dalam budaya mereka. Sayangnya karena kesibukan yang sukup memadai penulis tidak dapat menjelaskan dengan baik serta masih banyak unsur-unsur dalam “Jan/Janadi yang menjadi sarana pengkotekstualisasikan Injil kedalam budaya keluarga orang Kebar.




















DAFTAR PUSTAKA


v Wawancara Bapak Jhon C.Jambuani Via Telepon Sabtu, 01 Juni 2018

Komentar

Ilmu Pengetahuan

YESUS mengutuk Pohon Ara

Teologi Kontekstual di Eropa

Tafsiran Filipi