laporan bacaan
TUGAS INDIVIDU LAPORAN BACAAN MATA KULIAH
TEOLOGI KONTEKSTUAL I
“DENGAN SEGENAP HATIMU”
J. Blommendal Dan H. Martin Thimme

NAMA : CICILIA NOVALIA JAMBUANI
KELAS : D (DELTA)
SEMESTER : V (LIMA)
NIM : 14303 3004 15 1020
TUGAS : TEOLOGI KONTEKSTUAL 1
SEKOLAH TINGGI FILSAFAT
TEOLOGI GEREJA KRISTEN INJILI
IZAAK SAMUEL KIJNE JAYAPURA
2017/2018
Kata Pengantar
Segala puji dan syukur hanya bagi nama
Tuhan pencipta semesta alam beserta isinya atas kasih,kekuatan dan
penyertaanNya sehingga tugas individu berupa laporan bacaan pada semester
ganjil (lima) mata kuliah Teologi Kontekstual 1 dapat diselesaikan dengan baik.
Secara universal laporan bacaan ini memuat karangan J. Blommendal Dan H. Martin
Thimme dalam buku yang berjudul “Dengan Segenap Hatimu” yang membahas bagian
pengenalan nama Elyon dalam Perjanjian Lama. Bagaimana Elyon dikenal dan
pengaruhnya bagi kehidupan bangsa Israel dan juga memuat Beberapa Catatan
Sekitar Perguruan Mite Manarmakeri Sebagai Tugas Teologia Biblika.
Harapan penulis semoga laporan bacaan
ini bermanfaat bagi setiap orang yang membutuhkannya. Dan semoga laporan bacaan
ini juga dapat memenuhi kriteria yang telah ditetapkan oleh Dosen yang
bersangkutan. Pada akhirnya terima kasih kepada setiap pihak yang membantu
dalam proses pembuatan laporan bacaan ini.
Jayapura,
23 Oktober 2017 Penulis laporan Bacaan
Cicilia
Novalia Jambuani
A. Pendahuluan
Adapun
identitas buku yang akan dilapokan sebagai berikut:
v
Judul
Buku : Dengan Segenap Hatimu
v
Penyusun : Dr. J Blommendaal dan Hans
marthin Thimme
v
Penerbit : Biro Pengabdian dan
Penelitian STT GKI dengan
Departemen Penelitian dan pengembangan Sinode GKI Irian Jaya.
v
Tahun
Terbit : 1988
v
Cetakan : Pertama
v
Kota
terbit : Irian Jaya
v
Tebal
Buku : -
v
Jumlah
Halaman :- ( tidak jelas karena
difotocopy)
v
Lebar
Buku : -
v
Panjang
Buku : -
v
Garis
Besar Isi Buku :
Buku
ini adalah suatu karya yang menarik dan bermanfaat dalam berteologi sesuai
konteks. Didalam buku ini terdapat beberapa BAB pembahasan namun hanya II (Dua)
BAB yang membahas tentang Elyon Dalam Perjanjian Lama dan Beberapa Catatan
Sekitar Penguraian Mite Manamarkeri Sebagai Tugas Teologia Biblika. Dalam
setiap bab membahas tentang betapa pentingnya pelajaran Perjanjian Lama bagi
ilmu teologia untuk kehidupan gereja, bahwa perjanjian lama merupakan wahyu
Allah dan bagaimana Elyon dikenal didunia Perjanjian Lama. Lalu pada bagian
berikutnya membahas tentang pandangan Manarmakeri bagi kebudayaan setempat dan
pengaruhnya dalam Tugas Biblikadalam gereja Kristen di Irian Jaya.
B. Laporan
Bacaan Buku.
Bagian
penting yang ingin dilaporkan yaitu pada bab 13 dan 14 dimana seperti telah
dijelaskan pada garis-garis besar isi buku diatas.
Ø
Pada
bab 13 terdapat empat bagian penting yaitu :
v
Bagian
Pertama menguraikan tentang adalah kesukaan bagi Dr.J.Blommendaal menyampaikan
pidato pada Dies Natalies Sekolah Tinggi Teologia kita dimana beliu menekankan
pentingnya masalah khas Perjanjian Lama. Perjanjian Lama dianggap sebagia wahyu
Allah yang sebenarnya oleh Van Ruler dan bagi Von Harnack Perjanjian Lama
dianggap hilang untuk selama-lamanya dan tidak lagi mendapat tempat dalam
pemberitaan Kristen. Lalu tampa Perjanjian Lama, Perjanjian Baru tidak dapat
dipahami dipercayai oleh penulis bahwa Yesus sendiri hidup pada perjanjian lama
dan mengakhiri hidupNya juga pada perjanjian Lama, Bnd, Mazmur 22:2 kemudian
parah rasul pun berulang kali menyerukan tentang nubuatan Perjanjian Lama yang
berusaha membuktikan bahwa oknum Yesus dari Nazaret yang disebut Mesias
sungguh-sunggu telah datang. Sebenarnya wahyu Allah ada didalam diri Yesus
kristus yang awal dan dasarnya terdapat pada Perjanjian Lama. Berkaitan dengan
hubungan ini penulis mengingat akan gejala sinkritisme yang merupakan masalah
yang praktis kemudian menjadi pergumulan gereja-gerega di negara berkembang. Dalam Perjanjian Lama penulis memperkenalkan
dua jenis sinkritisme. Yang pertama dinamakan “Sinkritisme Illegitime”
berkaitan dengan penerimaan elemen-elemen tertentu yang berasal dari kekafiran
daerah sekitarnya yang kemudian dengan seiring berjalannya waktu dapat
dirasakan dalam pertentangan dengan Yahwisme akhirkan dicampakkan dengan
pengaruh kritikkan para nabi-nabi. Bentuknya yang kedua yaitu “Sinkritisme
Legitim” yang ini terdiri dari penerimaan sifat-sifat tertentu oleh Yahwe dari
dewa-dewa kafir.
v
Bagian
Kedua sinkritisme legitim yang terkenal adalah identifikasi Yahwe dengan dewa
pra Israel yang berasal dari Yerusalem dikenal dengan sebutan El-Elyon, Allah
yang maha tinggi yang dikenal atau disebut dalam Kejadian 14:18 dan yang
sebagai Allahnya Melkisedek raja Salem. Setelah Daud merebut kota Yerusalem, II
Samuel 6:1 mungkin Yahwe telah memaduhkan diri dengan El-Elyon yang disembah
disana yang merupakan tradisi keluaran. Sehingga Sinai dan peti perjanjian
terus dihubungkan dengan Yerusalem. Ada aspek lain yang ditunjuk oleh Clements
pada kenyataan bahwa El-Elyon sering digambarkan berkaitan dengan sifat-sifat
Baal, misalnya dalam Mazmur 48:3. Suatu
kombinasi demikian tidaklah aneh yang demikian penulis pernah mengkonstartikan
dalam Mazmur 68:15. Pada pihak lain dalam Mazmur 68 terdapat berbagai elemen
elistis: Yahwe sebagai hakim ayat 3, Ia alasan orang-orang bersukacita ayat 4,
bapa bagi anak yatim dan suami bagijanda-janda ayat 6, dan seterusnya.
Kombinasi lain pun muncul dari Yeheskiel 10: Yahwe adalah El-Syaddai ayat 5 dan
lain-lain.
v
Bagian
ketiga nama El-Elyon muncul kira-kira 30 kali dalam perjanjian lama. Bilama
Elyon muncul sebagai predikat El , maka dapat dikatakan sebagai identitas
dengan El. Jika dalam bacaan ini benar maka Elyon dilukiskan sebagai kepala
dari Pantheon yang ada hubungan dengan mistos rapat besar para dewa suatu
posisi hanya pada El. Didalam konteks terdapat El dengan disisipi oleh
kekhakhasan predikat elistik dalam ayat 4 El kebenaran, adil dan benar adanya,
Ia adalah pencipta ayat 6 dan bapa.
v
Bagian
empat jika kita meneliti pembacaan dan ayat-ayat di dalam Pl maka didalanya Elyon muncul
selaku kedewaan yang merdeka. Berarti tidak memiliki hubungan dengan nama El
maka gambaran lain pun muncul yaitu kitab-kitab berikut sebagai contohnya
Mazmur 18:7-20, Samuel 22:7-20, Mazmur 46, Mazmur 47, Mazmur 97:1-5, dan
akhirnya menunjuk pada Yesaya 14:13-15. Sesungguhnya penyataan Allah didalam
Israel melalui jalan-jalan yang ajaib. Namun bukan hanya melalui jalan-jalan
yang ajaib ini saja, karena juga melalui pergumulan , absorvasi dan
penolakan Ia tiapa kali menuntut
bangsaNya kepada suatu pengertian yang jelas tentang kebenaran sekitar Dia.
Ø
Bab 14
dapat diuraikan sebagai berikut:
v
Menyangkut
tugas teologia biblika dalam gereja Kristen injili di irian Jaya. Ahli-ahli
teologia meneliti kebudayaan setempat lalu pekerjaan pekabaran injil pada
umumnya berusaha agar bisa dimengerti menurut ilmu-ilmu didalamkebudyaan
sehingga mereka memperlengkapi diri juga.
Dalam tugas ini juga agar kebudayaan setempat dicatat dengan baik dan
tidak hilang suatu saat nanti. Tugas ini
dijalankan dengan maksud agar pendidikan agama Kristen dapat ditekankan dan
orang-orang dapat di baptis dan yang lama ditingalkan karena dianggap
berlawanan dengan pengakuan yang baru itu. Sampai alat music yang dulu dipakai
dalam pesta diganti dengan alat music baru yang dibawa oleh guru-guru. Perlu
agar ada suatu reformasi yang permanent dan tetap sesuai dengan perkembangan
Zaman. Peneletian dilakukan agar reformasi itu menyeluruh dilaksanakan oleh
gereja Kristen injili di Irian Jaya. Para penafsir pun tidak lepas dari tugas
ini yaitu menentukan tempat agar dapat dibedakan antara anti pengakuan dan
bentuk kedudukannya. Tugas pemisahan kemudian tinggal sebagai tugas penafsir.
Penulis beranggapan bahwa Alkitab perlu diteliti dan diterjemahkan kedalam
konteks setempat agar maknanya lebih dalam dan dapat diterima serta dipahami.
v
Dalam
upaya penguraian Mite manarmakeri ada banyak hal yang terjadi. Yang pertama
hambatan-hambatan yang dihadapi yaitu berupa seringkali karena hasilnya kurang
baik parah peneliti berfikir agar berhenti namun akhirnya diputuskan untuk
terus maju hingga selesai. Hambatan
dalam cara pengumpulan bahan pun menjadi perhatian utama sebab tugas ini
sebagian besar dikerjakan oleh mahasiswa sendiri tampa memeriksa kembali
hasilnya. Ada beberapa mahasiswa yang berasal dari Biak namun mereka sendiri
tidak terlalu hidup dalam kebudayaan dimaksud. Mereka yang telah keluar dan
bersekolah dikota biasanya mempunyai pandangan yang menghinakan kebudayaan
kampung. Hambatan yang kedua adalah yang mengajar dan penelitian ini. Sang
pengajar tidak berpengalamn dalam bidang antropologi msekipun ada karangan
F.C.Kamma tentang kebudayaan dimaksud namun pengajar merasa belum cukup untuk
mengerti mite itu dalam sisi mitologi dan ritologi umum dalam kebudayaan Biak.
Ada cara lain yaitu dengan bertukar pikiran mungkin berhasil. Alhasil cara ini
dipakai dan diteruskan hingga sekarang. Hambatan yang ketiga adalah yang paling
berat karena metode yang dipakai seharusnya intelektual dan ilmiah. Itu artinya
suatu bahan dibahas secara kritis yang dapat diterima logika dan akal budi.
Sampai saat ini banyak yang diceritakan dengan cara yang berbeda dan
dinyanyikan dari kampung-kampung. Lalu diputuskan bahwa semua diterima sebagai
eksperiment saja yang dapat merangsan pikiran dan bukan untuk menentukan hasil
yang boleh langsun diterima. Hal yang berikut yaitu mengenai hasil tafsiran
mite Manarmakeri. Didalamnya diceritakan bagaimana perkembangan yawi Nushado
menjadi Manarmakei lalu Mansren Manggundi. Yang secara garis besar berkaitan
dengan pengalaman dengan babi,kasuari,lalu bintang pagi,yang semuanya mempunyai
hubungan bagaimana hal ini terjadi dan diterima serta dipercayai oleh
orang-orang Biak pada umumnya. Yang menjadi dasar pengangan hidup manarmakeri
ialah pembatasan antar dunia sasor dan dunia koreri serta ketertarikan
manarmakeri untuk tinggal dan tidak kembali lagi ke dunia nyata. Pada akhirnya
peran pendeta dalam lingkungan mite Manarmakeri menjadi perhatian bahwa Manarmakeri terus
dipimpin dalam perkembangannya tampa menyadarinya sendiri dan Manarmakeri
menetapkan suatu pembatasan mutlak antara dunia Koreri dan dunia sasor dimana
tidak ada hubungan apapun yang menjadi penghubung diantar dua dunia ini. Yang
berbeda dengan peran Yesus sebagia penghubung hubungan Allah dan manusia yang
terputus atau dibatasi karena dosa maka jelas bahwa kebudyaan ini tidak bisa
dikontekstualisasikan kedalan pekabran injil oleh gereja Kristen injili.
C. Komentar
Pada
umumnya buku ini adalah kumpulan tulisan-tulisan oleh parah dosen dan beberapa
ahli biblika Perjanjian Lama. Hal yang menarik dalam karangan Dr.J.Blommendaal
adalah bagaimana El-Elyon ini dikenal dan fungsi serta pengaruhnya bagi
kehidupan bangsa Isreal. Cara mereka memahami El-Elyon dan bagaimana semuanya
berasal sedikit membingunkan saya. Sepertinya El-Elyon yang dimaksud memiliki
dua kepribadian atau dua unsur yaitu didalamnya juga terdapat sifat-sifat baal
yang diuriakan dengan jelas oleh penulis. Lalu bagaimana semua itu muncul dari
kebudayaan yang kemudian memperkuat kehidupan pada periode Perjanjian baru.
Lalu mungkin mengenai penafsiran mite Manarmakeri yang dilalkukan melalui
proses yang sangap panjang dengan berbagai macam kendala yang dihadapi serta
metode-metode yang digunakan dalam pendekatan sebagai upaya memahami budaya
setempat untuk memahami. Dan akhirnya kita masuk pada klimaks bahwa perbedaan
dengan pengakuan yang baru sangat berbedaoleh karena boleh disimpan sebagi
catatan budaya agar tidak hilang. Dan boleh dinggap sebagia suatu pengalaman
bukan sebagia suatu yang dapat dipercayai.
D. Penutup
a. Seperti yang telah saya katakana pada
bagian komentar bahwa pada umumnya berisi tentang kumpulan tulisan para dosen.
Bagian yang dilaporkan ini sangat sesuai sekali dengan bidang studi yang kami
pelajari. Dan saya sangat mengapresiasi usaha para dosen yang telah berusaha
untuk menyelesaikan dan mengumpulkan data-data sehingga menjadi dasar pengangan
yang kuat. Alasanya karena ini
menyangkut budaya dan bagaimana upaya pengkontekstualisasikan budaya dengan
pengakuan baru yang di perkuat pada bagian bab 13 mengenai bagaimana El-Elyon
dikenal oleh bangsa Israel.
b. Saran saya, secara khusus untuk mata kuliah
teologi kontekstual cara ini sangat menolong untuk menambah pengetahuan dengan
membuatlaporan bacaan saya jadi mengerti meskipun tidak sepenuhnya namun semua
menjadi jelas sekarang bahwa kita harus pintar-pintar dalam menanggapi budaya
kita tetapi juga bagaimana memahaminya sebagai budaya yang harus disimpan
sebagai nilai identitas setempat. Oleh karena itu birlah tugas berupa laopran
bacaan tetap ada mungkin kedepannya buka hanya 1 buku namun ada juga buku lain
yang menjadi teman perbandingan. Meskipun membuthkan banyak waktu namun cara
ini sangat menolong untuk mengerti secara sederhana materi yang sedang
dipelajari. Akhirnya terima kasih atas setiap hal berupa pengajaran yang kami
terima.
Daftar Pustaka
Karangan
Dr.J.Blommendaal dan H. Martin Thimme, dalam buku Segenap Hatimu, Hal. 181-212.
Komentar