natal
TUGAS
INDIVIDU TEOLOGI KONTEKSTUAL I
“SUATU KAJIAN DAFTAR PUSTAKA MENGENAI NATAL”
D
I
S
U
S
U
N
OLEH :
NAMA : CICILIA NOVALIA
JAMBUANI
NIM : 14303 3004 15 1024
SEMESTER : V
KELAS : D
JURUSAN : TEOLOGI
SEKOLAH TINGGI FILSAFAT TEOLOGI GEREJA KRISTEN INJILI
IZAAK SAMUEL KIJNE JAYAPURA
2017
KATA
PENGANTAR
Puji
dan syukur hanya bagi Allah, Tuhan kita yang oleh karena kasih dan anugrahNya
penulis dapat melaksanakan tugas individu yang diberikan oleh bapak dosen
pangampuh mata kuliah “ Teologi Kontekstual 1 “ dengan baik. Tema pembahasan
yang menarik tentang sejarah Natal dana pa itu sesuai dengan ajaran iman
Kristen atau tidak telah memberi penulis kesempatan untuk memiliki pengalaman
baru dalam melihat tradisi yang di pertahankan namun tidak sesuai dengan
seharusnya.
Penulisan
ini banyak masih banyak kesalahan dan harus terus di perbaiki oleh karena itu,
saran dan pendapat dari saudara-saudari sangat dibutuhkan, guna penyempurnaan
dan agar dapat bermanfaat bagi setiap orang yang membutuhkan. Terima kasih.
Penulis,
Cicilia
Novalia Jambuani
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang.
Natal
merupakan salah satu hari perayaan gerejawi yang mendunia. Perayaan hari Natal
sangat penting dalam kehidupan orang Kristen, terutama bagi mereka yang
sunguh-sunguh percaya bahwa Yesus lahir untuk menebus dan menyelamatkan
manuasia dari dosa dan ketidakmulianya manusia di hadapan ALLAH. Banyak orang
Kristen mengangap bahwa kelahiran sang mesias sunguh-sunguh terjadi pada malam
Natal yaitu, pada tanggal 24 Desember 2017 tahun yang silam. Kelahiran Yesus
memberi pengaruh spiritualitas yang sangat kuat bagi kehidupan orang Kristen
pada umumnya. Ketika orang-orang Kristen merayakan Natal, selalu di lengkapi
dengan beberapa hal yang membuat suasana Natal semakin menarik. Pada setiap
sisi rumah baik di dalam maupun di luar berdirilah sebuah pohon natal mungil
yang sangat indah di hiasi dengan gantungan-gantungan dekorasi Natal beserta
lampu Natal yang membuat pohon Natal semakin berkilau indah. Di setiap pintu
rumah terpasang kaos kaki Santa Claus. Setiap anggota keluarga sibuk menyiapkan
berbagai jenis makanan mulai dari berbagai jenis kue hingga berbagai jenis
makanan yang di sediakan tampa melupakan berbagai merek minuman soft drinks, alcohol drink, cold water
dan lain-lain. Dan masih banyak hal lainnya yang di lakukan untuk membuat
perayaan Natal semakin menarik. Santa Claus, Pit Hitam[PS1] , Sang Peri yang terkenal ramah
terhadap anak-anak juga memiliki peran yang sangat penting dalam perayaan
Natal.
Ketika
kita masih kanak-kanak kita biasanya menikmati perayaan Natal tampa
bertanya-tanya. Kita hidup dalam tradisi kehidupan orang Kristen yang membuat
kita tidak perlu mengajukan pertanyaan yang tidak enak mengenai perayaan Natal.
1.2.
Tujuan Penulisan.
a.
Untuk
mengetahui pengertian Natal.
b.
Untuk
mengetahui sejarah Natal.
c.
Untuk
mengetahui proses perayaan Natal hingga masuk ke gereja.
d.
Untuk
mengetahui asal mula pohon Natal.
e.
Untuk
mengetahui siapakah Santa Claus itu?
f.
Untuk
mempelajari mengenai hadiah Natal.
g.
Untuk
mengetahui apakah Natal memuliakan Tuhan ?
h.
Tampa
di sadari kita kembali ke masa Babilonia.
BAB II
NATAL
2.1. Pengertian Natal.
Kata
Christmas (Natal) yang artinya Mass of Christ atau disingkat Christ-Mass,
diartikan sebagai hari untuk merayakan kelahiran “Yesus”. Perayaan yang
diselenggarakan oleh non-Kristen dan semua orang Kristen ini berasal dari ajaran
Gereja Kristen Katolik Roma. Tetapi, dari manakah mereka mendapatkan ajaran
itu? Sebab Natal itu bukan ajaran Bible (Alkitab), dan Yesus pun tidak pernah
memerintah para muridnya untuk menyelenggarakannya. Perayaan yang masuk dalam
ajaran Kristen Katolik Roma pada abad ke empat ini adalah berasal dari upacara
adat masyarakat penyembah berhala.
Karena
perayaan Natal yang diselenggarakan di seluruh dunia ini berasal dari Katolik
Roma, dan tidak memiliki dasar dari kitab suci, maka marilah kita dengarkan
penjelasan dari Katolik Roma dalam Catholic Encyclopedia, edisi 1911, dengan
judul “Christmas”, anda akan menemukan kalimat yang berbunyi sebagai berikut:
“Christmas
was not among the earliest festivals of Church … the first evidence of the
feast is from Egypt. Pagan customs centering around the January calends
gravitated to christmas.”
“Natal
bukanlah diantara upacara-upacara awal Gereja … bukti awal menunjukkan bahwa
pesta tersebut berasal dari Mesir. Perayaan ini diselenggarakan oleh para
penyembah berhala dan jatuh pada bulan Januari ini, kemudian dijadikan hari
kelahiran Yesus.”
Dalam Ensiklopedi itu pula, dengan
judul “Natal Day,” Bapak Katolik pertama, mengakui bahwa:
“In
the Scriptures, no one is recorded to have kept a feast or held a great banquet
on his birthday. It is only sinners (like Paraoh and Herod) who make great
rejoicings over the day in which they were born into this world.”
“Di
dalam kitab suci, tidak seorang pun yang mengadakan upacara atau
menyelenggarakan perayaan untuk merayakan hari kelahiran Yesus. Hanyalah
orang-orang kafir saja (seperti Firaun dan Herodes) yang berpesta pora
merayakan hari kelahirannya ke dunia ini.”
Encyclopedia Britannica, yang
terbit tahun 1946, menjelaskan sebagai berikut:
“Christmas
was not among the earliest festivals of the church… It was not instituted by
Christ or the apostles, or by Bible authority. It was picked up of afterward
from paganism.”
“Natal
bukanlah upacar - upacara awal gereja. Yesus Kristus atau para muridnya tidak
pernah menyelenggarakannya, dan Bible (Alkitab) juga tidak pernah
menganjurkannya. Upacara ini diambil oleh gereja dari kepercayaan kafir
penyembah berhala.”
2.2. Sejarah Natal.
Pernah
merayakan hari kelahiran orang tersebut..” (“Perjamuan Suci” yang termaktub
dalam Kitab Perjanjian Baru, hanyalah untuk mengenang kematian Yesus Kristus.)
“…Perayaan Natal yang dianggap sebagai hari kelahiran Yesus, mulai diresmikan
pada abad keempat Masehi. Pada abad kelima, Gereja Barat memerintahkan kepada
umat Kristen untuk merayakan hari kelahiran Yesus, yang diambil dari hari pesta
bangsa Roma yang merayakan hari ”Kelahiran Dewa Matahari.” Sebab tidak seorang
pun yang mengetahui hari kelahiran Yesus.”
Sekarang
perhatikan! Fakta sejarah telah membeberkan kepada kita bahwa mulai lahirnya
gereja Kristen pertama sampai dua ratus atau tiga ratus tahun kemudian – jarak
waktu yang lebih lama dari umur negara Amerika Serikat – upacara Natal tidak
pernah dilakukan oleh umat Kristen. Baru setelah abad keempat, perayaan ini
mulai diselenggarakan oleh orang-orang Barat, Roma dan Gereja. Menjelang abad
kelima, Gereja Roma memerintahkan untuk merayakannya sebagai hari raya umat
Kristen yang resmi.
New
Schaff-Herzog Encyclopedia of Religious Knowledge dalam artikelnya yang
berjudul “Christmas” menguraikan dengan jelas sebagai berikut:
“How
much the date of the festival depended upon the pagan Brumalia (Dec.25)
following the Saturnalia (Dec.17-24), and celebrating the shortest day of the
year and the ‘new sun’… can not be accurately determined. The pagan Saturnalia
and Brumalia were too deeply entrenched in popular custom to be set aside by
Christian influence…The pagan festival with its riot and merrymaking was so
popular that Christians were glad of an excuse to continue its celebration with
little change in spirit and in manner. Christian preachers of the West and the
Near East protested against the unseemly frivolity with which Christ’s birthday
was celebrated, while Christians of Mesopotamia accused their Western brethren
of idolatry and sun worship for adopting as Christian this pagan festival.”
“Sungguh banyak tanggal perayaan
yang terkait pada kepercayaan kafir Brumalia (25 Desember) sebagai kelanjutan
dari perayaan Saturnalia (17-24 Desember), dan perayaan menjelang akhir tahun,
serta festival menyambut kelahiran matahari baru. Adat kepercayaan Pagan
Brumalia dan Saturnalia yang sudah sangat populer di masyarakat itu diambil
Kristen…Perayaan ini dilestarikan oleh Kristen dengan sedikit mengubah jiwa dan
tata caranya. Para pendeta Kristen di Barat dan di Timur Dekat menentang
perayaan kelahiran Yesus Kristus yang meniru agama berhala ini. Di samping itu
Kristen
Mesopatamia
menuding Kristen Barat telah mengadopsi model penyembahan kepada dewa
Matahari.”
Perlu
diingat! Menjelang abad pertama sampai pada abad keempat Masehi, dunia dikuasai
oleh imperium Romawi yang paganis politeisme. Sejak agama Kristen masih kecil
sampai berkembang pesat, para pemeluknya dikejar-kejar dan disiksa oleh
penguasa Romawi. Setelah Konstantin naik tahta menjadi kaisar, kemudian memeluk
agama Kristen pada abad ke-4 M. dan menempatkan agama sejajar dengan agama
kafir Roma, banyak rakyat yang berbondong-bondong memeluk agama Kristen.
Tetapi
karena mereka sudah terbiasa merayakan hari kelahiran dewa-dewanya pada tanggal
25 Desember, mengakibatkan adat tersebut sulit dihilangkan. Perayaan ini adalah
pesta-pora dengan penuh kemeriahan, dan sangat disenangi oleh rakyat. Mereka
tidak ingin kehilangan hari kegembiraan seperti itu. Oleh karena itu, meskipun
sudah memeluk agama Kristen, mereka tetap melestarikan upacara adat itu. Di
dalam artikel yang sama, New Schaff-Herzog Encyclopedia of Religious Knowledge
menjelaskan bagaimana kaisar Konstantin tetap merayakan hari “Sunday” sebagai
hari kelahiran Dewa Matahari. (Sun = Matahari, Day = Hari – dalam bahasa
Indonesia disebut hari Minggu -- pen.) Dan bagaimana pengaruh kepercayaan kafir
Manichaeisme yang menyamakan Anak Tuhan (Yesus) identik dengan Matahari, yang
kemudian pada abad ke-4 Masehi kepercayaan itu masuk dalam agama Kristen.
Sehingga perayaan hari kelahiran Sun-god (Dewa Matahari) yang jatuh pada
tanggal 25 Desember, diresmikan menjadi hari kelahiran Son of God (Anak Tuhan –
Yesus).
Demikianlah
asal usul “Christmas – Natal” yang dilestarikan oleh dunia Barat sampai
sekarang. Walaupun namanya diubah menjadi selain Sun-day, Son of God, Christmas
dan Natal, pada hakikatnya sama dengan merayakan hari kelahiran dewa Matahari.
Sebagai contoh, kita bisa saja menamakan kelinci itu dengan nama singa, tetapi
bagaimanapun juga fisiknya tetap kelinci.
Marilah
kita kembali membaca Encyclopaedia Britannica yang mengatakan sebagai berikut:
“Certain
Latins, as early as 354, may have transferred the birthday from January 6th to
December, which was then a Mithraic feas … or birthday of the unconquered SUN …
The Syrians and Armenians, who clung to January 6th, accused the Romans of sun
worship and idolatry, contending… that the feast of December 25th, had been
invented by disciples of Cerinthus…”
“Kemungkinan besar bangsa Latin/Roma sejak
tahun 354 M. telah mengganti hari kelahiran dewa Matahari dari tanggal 6
Januari ke 25 Desember, yang merupakan hari kelahiran Anak dewa Mitra atau
kelahiran dewa Matahari yang tak terkalahkan. Tindakan ini mengakibatkan
orang-orang Kristen Syiria dan Armenia marahmarah. Karena sudah terbiasa
merayakan hari kelahiran Yesus pada tanggal 6 Januari, mereka mengecam bahwa
perayaan tanggal 25 Desember itu adalah hari kelahiran Dewa Matahari yang
dipercayai oleh bangsa Romawi. Penyusupan ajaran ini ke dalam agama Kristen,
dilakukan oleh Cerinthus…”
2.3. Asal Mula Pohon Natal.
Sekarang
dari manakah kita mendapatkan kebiasaan memasang pohon Natal itu? Di antara
para penganut agama Pagan kuno, pohon itu disebut “Mistletoe” yang dipakai pada
saat perayaan musim panas, karena mereka harus memberikan persembahan suci
kepada matahari, yang telah memberikan mukjizat penyembuhan. Kebiasaan
berciuman di bawah pohon itu merupakan awal acara di malam hari, yang
dilanjutkan dengan pesta makan dan minum sepuas-puasnya, sebagai perayaan yang
diselenggarakan untuk memperingati kematian “Matahari Tua” dan kelahiran
“Matahari Baru” di musim panas.
Rangkaian
bunga suci yang disebut “Holly Berries” juga dipersembahkan kepada dewa
Matahari. Sedangkan batang pohon Yule dianggap sebagai wujud dari dewa
matahari. Begitu pula menyalakan lilin yang terdapat dalam upayara Kristen
hanyalah kelanjutan dari kebiasaan kafir, sebagai tanda penghormatan terhadap
dewa matahari yang bergeser menempati angkasa sebelah selatan.
“The
Holly, the Mistletoe, the Yule log …are relics of pre-Christian times.”
“Rangkaian bunga Holly, pohon
Mistletoe dan batang pohon Yule…yang dipakai sebagai penghias malam Natal
adalah warisan dari zaman sebelum Kristen.”
Sedangkan
buku Answer to Question yang ditulis oleh Frederick J. Haskins menyebutkan
bahwa:
“The use of Christmas wreath is believed by authorities to be traceable
to the pagan customs of decorating buildings and places of worship at the feast
which took place at the same time as Christmas. The Christmas tree is from
Egypt, and its origin date from a period long anterior to the Christian Era.”
“Hiasan yang dipakai pada upacara
Natal adalah warisan dari adat agama penyembah berhala (paganisme), yang
menghiasi rumah dan tempat peribadatan mereka yang waktunya bertepatan dengan
malam Natal sekarang. Sedangkan pohon Natal berasal dari kebiasaan Mesir Kuno,
yang masanya lama sekali sebelum lahirnya agama Kristen.”
2.4. Siapa Santa Claus Itu ?
Santa
Claus bukan ajaran yang berasal dari paganisme, tetapi juga bukan ajaran
Kristen. Sinterklas ini adalah ciptaan seorang pastur yang bernama “Santo
Nicolas” yang hidup pada abad ke empat Masehi. Hal ini dijelaskan oleh
Encyclopedia Britannica, volume 19 halaman 648-649, edisi kesebelas, yang
berbunyi sebagai berikut:
“St.
Nicholas, bishop of Myra, a saint honored by the Greek and Latins on the 6th of
December… A Legent of his surreptitious bestowal of dowries on the three
daughters of an improverrished citizen… is said to have originated the old
custom of giving presents in secret on the Eve of St. Nicholas (Dec.6),
subsequently transferred to Christmas day. Hence the association of Christmas
with Santa Claus…”
“St. Nicholas, adalah seorang
pastur di Myra yang amat diagung-agungkan oleh orang-orang Yunani dan Latin
setiap tanggal 6 Desember…Legenda ini berawal dari kebiasaannya yang suka
memberikan hadiah secara sembunyisembunyi kepada tiga anak wanita miskin… untuk
melestarikan kebiasaan lama dengan memberikan hadiah secara tersembunyi itu
digabungkan ke dalam malam Natal. Akhirnya tarkaitlah antara hari Natal dan
Santa Claus…”
Sungguh
merupakan kejanggalan! Orang tua menghukum anaknya yang berkata bohong. Tetapi
di saat menjelang Natal, mereka membohongi anakanak dengan cerita Sinterklas
yang memberikan hadiah di saat mereka tidur. Bukankah ini suatu keanehan,
ketika anak-anak menginjak dewasa dan mengenal kebenaran, pasti akan
beranggapan bahwa Tuhan hanyalah mitos atau dongeng belaka?
Dari bukti-bukti nyata yang telah
kita ungkap tadi dapatlah diambil kesimpulan, bahwa perayaan Natal atau
Christmas itu bukanlah ajaran Kristen yang sebenarnya, melainkan kebiasaan para
penyembah berhala (Paganis). Ia warisan dari kepercayaan kuno Babilonia ribuan
tahun yang lampau.
2.5. Hadiah Natal.
Acara
yang paling penting dari seluruh kegiatan Natal adalah “The Christmas Shopping
Season – Musim Belanja Natal” yang dilakukan dengan cara membeli dan tukar
menukar hadiah. Mungkin banyak orang yang mengecam kami sambil berkata:
“Bukankah Bibel (Alkitab) telah
menceritakan kepada kita untuk ditiru? Lupakah kita kisah 3 orang dari timur
yang datang ke Betelhem untuk memberikan hadiah ketika Yesus lahir?”
Memang,
kami mengetahui cerita itu di dalam Alkitab. Tetapi, silahkan anda melihat
keterangan kami yang mengejutkan ini. Marilah menengok sejarah asal usul tukar
menukar hadiah itu, kemudian kita bandingkan dengan ayat Alkitab.
Pada Bibliothica Sacra, volume 12,
halaman 153-155, kita dapat membaca sebagai berikut:
“The
interchange of presents between friends is alike characteristic of Christmas
and the Saturnalia, and must have been adopted by Christians from the Pagan, as
the admonition of Tertullian plainly shows.”
“Tukar menukar hadiah antar teman
di hari Natal serupa dengan adat agama Saturnalia. Kemungkinan besar, kebiasaan
ini diadopsi oleh orang-orang Kristen dari agama Pagan, sebagaimana yang
dilakukan oleh orang-orang Tertulianus.”
Dari
bukti yang jelas ini, ternyata kebiasaan pertukaran hadian sesama teman dan
famili pada hari Natal itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan kisah dalam
Alkitab tersebut. Acara Natal bukanlah merayakan ulang tahun Yesus Kristus,
juga bukan untuk menghormatinya.
Sebagai
contoh, seorang teman yang sangat anda cintai sedang merayakan ulang tahunnya.
Bila ingin membahagiakannya di hari kelahirannya itu, apakah anda membeli
hadiah untuk teman yang lain? Membeli lagi dan tukar menukar hadiah dengan
teman-teman dan kekasih anda, tetapi tidak memberi hadiah apa pun kepada teman
yang anda cintai, yang sedang anda rayakan hari ulang tahunnya? Tidakkah
disadari keganjilan seperti itu?
Sebuah
kenyataan yang tidak bisa dipungkiri yang selalu dilakukan oleh hampir semua
orang di seluruh dunia. Mereka menghormati “sebuah hari” – yang sebenarnya
bukan hari kelahiran Yesus Kristus – dengan berbelanja dan membeli hadiah
sebanyak-banyaknya untuk ditukarkan kepada teman-teman dan kerabatnya. Dari
pengalaman saya selama bertahun-tahun, begitu pula pengalaman para pastur dan
pendeta; Apabila bulan Desember tiba, hampir semua orang yang mengaku Kristen
lupa memberi hadiah kepada Yesus Kristus yang mereka cintai.
Desember
adalah bulan yang paling sulit untuk menghidupkan ajaran Yesus. Sebab semua
orang terlalu disibukkan untuk membeli dan menukar hadiah daripada mengingat
Yesus dan menghidupkan ajarannya. Peristiwa melupakan Yesus ini terus berlangsung
sampai bulan Januari bahkan Pebruari. Sebab mereka harus melunasi biaya
pengeluaran yang dibelanjakan pada waktu Natal. Sehingga mereka sulit mengabdi
kepada Yesus kembali sebelum bulan Maret.
Sekarang,
perhatikan apa kata Bibel tentang tiga orang dari timur yang memberikan hadiah
kepada Yesus, yang berbunyi sebagai berikut:
“Sesudah
Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah
orang-orang Majus dari Timur ke Yerusalem dan bertanya-tanya: “Di manakah dia,
raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-bintang
di timur dan kami datang untuk menyembah dia.” Ketika raja Herodes mendengar
tentang hal itu terkejutlah ia beserta seluruh Yerusalem. Maka dikumpulkannya
semua imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi, lalu dimintanya keterangan
dari mereka, di mana Mesias akan dilahirkan. Mereka berkata kepadanya: “Di
Betlehem di tanah Yudea, karena demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi: Dan
engkau Betlehem, tanah Yudea, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di
antara mereka yang memerintah Yudea, karena daripadamulah akan bangkit seorang
pemimpin, yang akan menggembalakan umatKu Israel. Lalu dengan diam-diam Herodes
memanggil orang-orang Majusi itu dan dengan teliti bertanya kepada mereka,
bilamana bintang itu nampak. Kemudian ia menyuruh mereka ke Betlehem, katanya:
“Pergi dan selidikilah dengan seksama hal-hal mengenai anak itu dan segera
sesudah kamu menemukan dia, kabarkanlah kepadaku supaya aku pun datang
menyembah dia.” Setelah mendengar kata-kata raja itu, berangkatlah mereka. Dan
lihatlah, bintang yang mereka lihat di timur itu mendahului mereka hingga tiba
dan berhenti di atas tempat, di mana anak itu berada. Ketika mereka melihat
bintang itu, sangat bersukacitalah mereka. Maka masuklah mereka ke dalam rumah
itu dan melihat anak itu bersama Maria, ibunya, lalu sujud menyembah dia.
Mereka pun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan
kepadanya, yaitu emas, kemenyan dan mur. Dan karena diperingatkan dalam mimpi,
supaya jangan kembali kepada Herodes, maka pulanglah mereka ke negerinya
melalui jalan lain.”
Perhatikanlah
dengan teliti. Ayat bibel tersebut menceritakan bahwa pada mulanya orang-orang
Majus tersebut menanyakan tentang Bayi Yesus yang lahir sebagai Raja Yahudi.
Lalu, mengapa mereka memberi hadiah kepadanya? Apakah karena hari kelahirannya?
Jawabannya
adalah “Tidak.” Sebab mereka memberi hadiah beberapa hari bahkan beberapa
minggu setelah hari kelahirannya.
Bisakah
peristiwa ini dipakai pedoman bagi kita untuk melakukan kebiasaan memberi atau
saling menukar hadiah di antara kita? Jelas tidak bisa. Sebab orang-orang Majus
tersebut tidak saling menukar hadiahnya, tetapi mereka memberi hadiah kepada
Yesus. Bukan tukar menukar hadiah sesama teman atau kerabatnya.
Mengapa?
Silahkan anda membaca buku Adam Clarke Commentary, volume 5, halaman 46 yang
berbunyi sebagai berikut:
“Verse
11. (They presented unto him gifts.) The people of the east never approach the
presence of kings and great personages, without a present in their hands. The
custom is often noticed in the Old Testament, and still prevails in the east,
and in some of the newly discored South Sea Islands.”
“Ayat 11. (Mereka memberi hadiah
kepadanya.) Adalah kebiasaan orang-orang timur, apabila menghadap raja atau
orangorang terkemuka, mereka selalu membawa hadiah. Kebiasaan seperti ini juga
tercantum dalam kitab Perjanjian Lama, dan masih berlaku di timur, juga dapat
ditemuka di South Sea Islands (Kepulauan Laut Selatan).”
Dari
keterangan Adam Clarke ini, jelaslah bagi kita, bahwa peristiwa tersebut tidak
bisa dipakai pedoman atau dikaitkan dengan kebiasaan Kristen baru dengan
menukar hadiah kepada temannya untuk menghormati ulang tahun Yesus. Sebaliknya,
mereka mengikuti adat orang-orang timur kuno yang memberi hadiah ketika
mengharap raja. Mereka mendatangi Yesus, yang lahir sebagai Raja Yahudi.
Sebagaimana ratu Sheba (Balqis) membawa hadiah kepada raja Salomo (Sulaiman).
Bahkan seperti sekarang ini, para tamu negara pasti membawa hadiah atau cindera
mata apabila datang ke White House (Gedung Putih) untuk menemui presiden.
Jadi
kebiasaan menukar hadiah ini bukanlah dari ajaran Kristen, melainkan hanya
merupakan pelestarian tradisi lama yang dilakukan oleh orang-orang pagan
(penyembah berhala). Di saat menjelang Natal atau Christmas yang katanya untuk
menghormati Kristus dan menghidupkan ajarannya, justru orang-orang Kristen
bertambah set back (jauh) dari ajaran Yesus.
2.6. Proses Natal Masuk Ke Gereja.
New
Schaff-Herzog Encyclopedia of Religious Knowledge dalam artikelnya yang
berjudul “Christmas” menguraikan dengan jelas sebagai berikut:
“How
much the date of the festival depended upon the pagan Brumalia (Dec.25)
following the Saturnalia (Dec.17-24), and celebrating the shortest day of the
year and the ‘new sun’… can not be accurately determined. The pagan Saturnalia
and Brumalia were too deeply entrenched in popular custom to be set aside by
Christian influence…The pagan festival with its riot and merrymaking was so
popular that Christians were glad of an excuse to continue its celebration with
little change in spirit and in manner. Christian preachers of the West and the
Near East protested against the unseemly frivolity with which Christ’s birthday
was celebrated, while Christians of Mesopotamia accused their Western brethren
of idolatry and sun worship for adopting as Christian this pagan festival.”
“Sungguh banyak tanggal perayaan
yang terkait pada kepercayaan kafir Brumalia (25 Desember) sebagai kelanjutan
dari perayaan Saturnalia (17-24 Desember), dan perayaan menjelang akhir tahun,
serta festival menyambut kelahiran matahari baru. Adat kepercayaan Pagan
Brumalia dan Saturnalia yang sudah sangat populer di masyarakat itu diambil
Kristen…Perayaan ini dilestarikan oleh Kristen dengan sedikit mengubah jiwa dan
tata caranya. Para pendeta Kristen di Barat dan di Timur Dekat menentang
perayaan kelahiran Yesus Kristus yang meniru agama berhala ini. Di samping itu
Kristen
Mesopatamia
menuding Kristen Barat telah mengadopsi model penyembahan kepada dewa
Matahari.”
Perlu
diingat! Menjelang abad pertama sampai pada abad keempat Masehi, dunia dikuasai
oleh imperium Romawi yang paganis politeisme. Sejak agama Kristen masih kecil
sampai berkembang pesat, para pemeluknya dikejar-kejar dan disiksa oleh
penguasa Romawi. Setelah Konstantin naik tahta menjadi kaisar, kemudian memeluk
agama Kristen pada abad ke-4 M. dan menempatkan agama sejajar dengan agama
kafir Roma, banyak rakyat yang berbondong-bondong memeluk agama Kristen.
Tetapi
karena mereka sudah terbiasa merayakan hari kelahiran dewa-dewanya pada tanggal
25 Desember, mengakibatkan adat tersebut sulit dihilangkan. Perayaan ini adalah
pesta-pora dengan penuh kemeriahan, dan sangat disenangi oleh rakyat. Mereka
tidak ingin kehilangan hari kegembiraan seperti itu. Oleh karena itu, meskipun
sudah memeluk agama Kristen, mereka tetap melestarikan upacara adat itu. Di
dalam artikel yang sama, New Schaff-Herzog Encyclopedia of Religious Knowledge
menjelaskan bagaimana kaisar Konstantin tetap merayakan hari “Sunday” sebagai
hari kelahiran Dewa Matahari. (Sun = Matahari, Day = Hari – dalam bahasa
Indonesia disebut hari Minggu -- pen.) Dan bagaimana pengaruh kepercayaan kafir
Manichaeisme yang menyamakan Anak Tuhan (Yesus) identik dengan Matahari, yang
kemudian pada abad ke-4 Masehi kepercayaan itu masuk dalam agama Kristen.
Sehingga perayaan hari kelahiran Sun-god (Dewa Matahari) yang jatuh pada
tanggal 25 Desember, diresmikan menjadi hari kelahiran Son of God (Anak Tuhan –
Yesus).
Demikianlah
asal usul “Christmas – Natal” yang dilestarikan oleh dunia Barat sampai
sekarang. Walaupun namanya diubah menjadi selain Sun-day, Son of God, Christmas
dan Natal, pada hakikatnya sama dengan merayakan hari kelahiran dewa Matahari.
Sebagai contoh, kita bisa saja menamakan kelinci itu dengan nama singa, tetapi
bagaimanapun juga fisiknya tetap kelinci.
Marilah
kita kembali membaca Encyclopaedia Britannica yang mengatakan sebagai berikut:
“Certain
Latins, as early as 354, may have transferred the birthday from January 6th to
December, which was then a Mithraic feas … or birthday of the unconquered SUN …
The Syrians and Armenians, who clung to January 6th, accused the Romans of sun
worship and idolatry, contending… that the feast of December 25th, had been
invented by disciples of Cerinthus…”
“Kemungkinan besar bangsa Latin/Roma sejak
tahun 354 M. telah mengganti hari kelahiran dewa Matahari dari tanggal 6
Januari ke 25 Desember, yang merupakan hari kelahiran Anak dewa Mitra atau
kelahiran dewa Matahari yang tak terkalahkan. Tindakan ini mengakibatkan
orang-orang Kristen Syiria dan Armenia marahmarah. Karena sudah terbiasa
merayakan hari kelahiran Yesus pada tanggal 6 Januari, mereka mengecam bahwa
perayaan tanggal 25 Desember itu adalah hari kelahiran Dewa Matahari yang
dipercayai oleh bangsa Romawi. Penyusupan ajaran ini ke dalam agama Kristen,
dilakukan oleh Cerinthus…”
Bagaimana
Bibel berbicara tentang Natal, atau mencatat pandangan para murid Yesus atau
bapak-bapak geraja awal. Jawabannya sungguh sangat mengejutkan bagi kalangan
Kristen sendiri. Sebagaimana yang dikatakan Bibel (Alkitab) pada kitab Yeremia
10:2-4 yang berbunyi sebagai berikut:
“Janganlah biasakan dirimu dengan
tingkah langkah bangsa-bangsa, janganlah gentar terhadap tanda-tanda di langit,
sekalipun bangsabangsa gentar terhadapnya. Sebab yang disegani bangsa-bangsa
adalah kesia-siaan.”
“Bukankah berhala itu pohon yang
ditebang orang dari hutan, yang dikerjakan dengan pahat oleh tangan tukang
kayu?
Orang memperindahnya dengan emas
dan perak; orang memperkuatnya dengan paku dan palu, supaya jangan goyang.”
Itulah keterangan yang jelas dari
Bibel tentang pohon Natal. Kita dilarang mengikuti kebiasaan bangsa-bangsa
penyembah berhala. Sebab hal itu merupakan perbuatan yang sesat menyekutukan
Tuhan. Pada ayat kelima dijelaskan bahwa:
“Pohon itu tidak bisa berbicara,
dan orang harus mengangkatnya, karena ia tidak bisa berjalan sendiri.”
“Janganlah takut kepadanya, sebab
ia tidak dapat berbuat jahat, juga tidak dapat berbuat baik.”
2.7. Natal Memuliakan Tuhan ?
Christmas
atau Natal telah menjadi musim panen para pedagang. Ia menjadi sponsor yang
terus dilestarikan oleh perusahaan advertising setiap tahun. Anda selalu
melihat Santa Claus yang dipajang di setiap toko. Iklan-iklan menyambut dan
mengajak kita untuk merayakan “Beautiful Christmas Spirit”. Koran yang selalu
menjual iklan, ikut menyemarakkan musim kaum kafir tersebut di tajuk
rencananya. Orang yang mudah terbius oleh tradisi ini, akan marah bila
ditunjukkan kebenaran dari Tuhan. Padahal “Christmas Spirit = Semangat Natal”
yang diselenggarakan setiap tahun itu, bukanlah untuk mengangungkan Kristus,
melainkan hanya untuk promosi barang-barang dagangan. Sebagaimana rayuan setan
lainnya, ia dikemas sedemikian rupa sehingga tampak seperti “Malaikat Pembawa Terang”
yang amat indah. Setiap tahun jutaan dolar dihabiskan begitu saja, sementara
ajaran Yesus diterlantarkan. Itulah bagian dari sistem perekonomian Babilonia.
Sebagaimana
yang telah diramalkan oleh Bibel (Alkitab), kita merasa berada di negara
Kristen, padahal kita di Babilonia, tetapi kita tidak menyadarinya. Ingatlah
pesan Alkitab yang berbunyi sebagai berikut:
“Pergilah kamu hai umatKu, pergilah
dari padanya, supaya kamu jangan mengambil bagian dalam dosa-dosanya, dan
supaya kamu jangan turut ditimpa malapetaka-malapetakanya.” (Wahyu 18:4)
Oleh
karena itu, di tahun ini, daripada jutaan uang tersebut dihamburhamburkan
begitu saja, lebih baik dibelanjakan untuk menunjang pekerjaan Tuhan.
Ada
dua alasan yang dipakai dasar oleh orang-orang yang menyelenggarakan Natal,
sebagai cara untuk menghormati Yesus Kristus, meskipun mereka mengetahui bahwa
perayaan itu warisan kepercayaan Paganisme:
a)
Banyak
yang mengajukan alasan: “Walaupun kita tidak mengetahui secara tepat hari
kelahiran Yesus, apa salahnya kita memilih hari untuk merayakan ulang
tahunnya.”
Kami akan menjawab dengan pasti
“Tidak bisa”. Sebab dalam Catholic Encyclopedia (Eksiklopedi Katolik) telah
dijelaskan:
“Sinners
alone, not saints, celebrate their birthday = Hanya orang kafir, bukan orang-orang
suci, yang merayakan hari ulang tahun mereka.” Perayaan ulang tahun bukan
berasal dari agama Kristen, melainkan dari ajaran agama kafir.
b) Ada
pula yang beralasan: “Walaupun Natal itu kebiasaan orang-orang kafir (pagan)
yang menyembah dewa matahari, tetapi kita tidak menyembah dewa tersebut,
melainkan untuk menghormati Yesus Kristus.”
Tetapi
sudahkah kita mendengarkan jawaban Tuhan melalui firmannya yang berbunyi
sebagai berikut:
“Maka hati-hatilah, supaya jangan
engkau kena jerat dan mengikuti mereka, setelah mereka dipunahkan dari
hadapanmu, dan supaya jangan engkau menanya-nanya tentang tuhan mereka dengan
berkata: “Bagaimana bangsa-bangsa ini beribadah kepada tuhan mereka? Aku pun
mau berlaku begitu.” Jangan engkau berbuat seperti itu terhadap Tuhanmu. Sebab
segala yang menjadi kekejian bagi Tuhan, apa yang dibenciNya, itulah yang
dilakukan mereka bagi tuhan mereka; bahkan anak-anaknya lelaki dan anak-anaknya
perempuan dibakar mereka dengan api bagi tuhan mereka.” (Ulangan 12:30-31)
Tuhan
berfirman dengan jelas dalam kitab suciNya, bahwa Dia tidak mau menerima dalam
bentuk penyembahan yang menyerupai atau meniru cara penyembahan orang-orang
kafir kepada tuhannya. Cara penyembahan seperti itu sangat menjijikkan bagi
Tuhan. BagiNya, pemujaan yang demikian itu tidak layak untukNya, melainkan
hanya pantas untuk memuja berhala. Sebagaimana yang sering kita dengar, Tuhan
melarang kita menyembahNya hanya dengan “menurut kata hati kita sendiri.” Yesus
telah bersabda:
“Allah itu Roh, dan barang siapa
yang menyembah Dia, harus menyembahNya dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa
menghendaki penyembah-penyembah demikian.” (Yohanes 4:24)
Dan
apa yang dimaksud dengan kebenaran itu? Firman Tuhan atau Kitab suci Bible
itulah kebenaran. Sebagainya sabda Yesus yang berbunyi sebagai berikut:
“Kuduskanlah mereka dalam
kebenaran; FirmanMu adalah kebenaran.” (Yohanes 17:17)
Di
Dalam Bible sendiri, secara jelas Tuhan berfirman bahwa Dia tidak mau menerima
penyembahan kepadaNya, dengan meniru cara penyembahan para penyembah berhala.
Begitu pula cara yang dipakai untuk mengagungkan dan memuliakan Yesus Kristus.
Ingatlah
sekali lagi, peringatan Yesus yang berbunyi:
“Percuma mereka beribadah kepadaku,
sedangkan ajaran yang mereja ajarkan ialah perintah manusia.”
Natal
atau Christmas adalah tradisi dan ajaran manusia, sedangkan ajaran Tuhan telah
melarangnya. Selanjutnya Yesus bersabda lagi:
“Sungguh kamu telah menolak ajaran
Tuhan, tetapi kamu mengikuti ajaran tradisimu sendiri.”
Alangkah
tepat firman-firman Tuhan yang dilontarkan kepada berjuta-juta orang yang
melakukan Natal itu. Mereka mengabaikan ajaran Tuhan. Tuhan melarang pemujaan
yang meniru adat kaum kafir penyembah berhala, tetapi dengan senang hati kita
melanggarnya. Tuhan berfirman:
“Janganlah kamu berbuat demikian
terhadap Tuhanmu.”
Ternyata
hampir semua orang menganggap ringan larangan itu. Atau karena tidak memiliki
dasar agama yang kuat, akhirnya mereka mengikuti tradisi kebanyakan orang-orang
untuk merayakan Natal.
Jangan
salah! Tuhan membiarkan anda untuk berbuat semaunya dan tidak mengikuti
petunjukNya. Tuhan membiarkan kita tenggelam dalam keramaian dan mengikuti
tradisi orang-orang. Bahkan Dia akan membiarkan kita berlumuran dosa. Tetapi,
Tuhan juga telah memerintahkan kita tentang datangnya hari perhitungan atau
pembalasan. Jika kamu menanam, niscaya kamu akan memetik hasilnya. Yesus adalah
firman Tuhan yang hidup, sedangkan Bibel adalah firman Tuhan yang tertulis. Dan
kita akan diadili sesuai dengan ketetapan yang telah digariskan dalam firman
tersebut. Kita pun tidak bisa mengelak dan mengabaikannya.
2.8. Tampa Di Sadari Kita Kembali Ke Masa Babilonia.
Kita
mewarisi Natal berasal dari Gereja Katolik Roma, dan gereja itu mendapatkannya
dari kepercayaan pagan (kafir) Politeisme, lalu dari manakah agama kafir itu
mendapatkan ajaran itu? Dimana, kapan, dan bagaimana bentuk asli ajaran itu?
Bila
kita telusuri mulai dari ayat-ayat Bible (Alkitab) sampai pada sejarah
kepercayaan bangsa Babilonia kuno, niscaya akan ditemukan bahwa ajaran itu
berasal dari kepercayaan berhala yang dianut oleh masyarakat Babilonia di bawah
raja Nimrod (Namrud – di masa inilah nabi Ibrahim lahir). Jelasnya, akar
kepercayaan ini tumbuh setelah terjadi banjir besar di masa nabi Nuh.
Nimrod,
cucu Ham, anak nabi Nuh, adalah pendiri sistem kehidupan masyarakat Babilonia.
Sejak itulah terdapat dasar-dasar pemerintahan dan negara, dan sistem ekonomi
dengan cara bersaing untuk meraih keuntungan. Nimrod inilah mendirikan menara
Babel, membangun kota Babilonia, Nineweh dan kota-kota lainnya. Dia pula yang
pertama membangun kerajan di dunia. Nama “Nimrod” dalam bahasa Hebrew (Ibrani)
berasal dari kata “Marad” yang artinya “dia membangkang atau murtad” (Karena
bahasa Ibrani serumpun dengan bahasa Arab, silahkan anda membandingkan kata
“Marad” dengan kata Arab “Ridda” atau “murtad”. Pen)
Dari
catatan-catatan kuno, kita mengetahui perjalanan Nimrod ini, yang mengawali pemurtadan
terhadap Tuhan dan menjadi biang manusia pembangkang di dunia sampai saat ini.
Jumlah kejahatannya amat banyak, diantaranya, dia mengawini ibu kandungnya
sendiri yang bernama Semiramis. Setelah Nimrod meninggal dunia, ibu yang
merangkap sebagai istri tersebut menyebarkan ajaran bahwa Roh Nimrod tetap
hidup selamanya, walaupun jasadnya telah mati. Dia membuktikan ajarannya dengan
adanya pohon
Evergreen
yang tumbuh dari sebatang kayu yang mati, yang ditafsirkan oleh Semiramis
sebagai bukti kehidupan baru bagi Nimrod yang sudah mati. Untuk mengenang hari
kelahirannya, Nimrod selalu hadir di pohon evergreen ini dan meninggalkan
bingkisan yang digantungkan di ranting-ranting pohon itu. 25 Desember itulah
hari kelahiran Nimrod. Dan inilah asal usul pohon Natal.
Melalui
pengaruh dan pemujaannya kepada Nimrod, Semiramis dianggap sebagai “Ratu
Langit” oleh rakyat Babilonia. Dengan berbagai julukan, akhirnya Nimrod dipuja
sebagai “Anak Suci dari Sorga”. Melalui perjalanan sejarah dan pergantian
generasi dari masa ke masa, dari satu bangsa ke bangsa lainnya, penyembahan
berhala versi Babilonia ini berubah menjadi Mesiah Palsu yang berupa dewa Baal,
anak dewa Matahari. Dalam sistem kepercayaan Babilonia ini, “Ibu dan anak”
(Semiramis dan Nimrod yang lahir kembali) menjadi obyek penyembahan. Ajaran
penyembahan kepada ibu dan anak ini menyebar luas sampai di luar Babilonia
dengan bentuk dan nama yang berbeda-beda, sesuai dengan bahasa negara-negara
yang ditempatinya. Di Mesir dewa-dewi itu bernama Isis dan Osiris. Di Asia
bernama Cybele dan Deoius. Dalam agama Pagan Roma disebut Fortuna dan Yupiter.
Bahkan di Yunani, China, Jepang, Tibet bisa ditemukan adat pemujaan terhadap
dewi Madonna, jauh sebelum Yesus lahir!
Sampai
pada abad ke-4 dan ke-5 Masehi, ketika dunia pagan (penyembah banyak dewa)
Romawi menerima agama baru yang disebut “Kristen,” dengan membawa adat dan
kepercayaan pagan mereka yang lama. Akibatnya kepercayaan kepada Dewi Madonna,
Ibu dan Anak juga menjadi populer, terutama di waktu hari Natal. Di setiap
musim Natal kita selalu mendengar lagu-lagu atau hymne: “Silent Night” atau
“Holy Night” yang sangat akrab dengan tema pemujaan terhadap Ibu dan Anak.
Kita
yang sejak lahir diwarnai oleh alam budaya Babilonia, telah diajarkan untuk
mengagungkan dan memuliakan semua tradisi yang berasal dari jaman jahiliyah
kuno itu. Kita tidak pernah bertanya untuk mengetahui dari manakah asal usul
adat seperti itu – Apakah ia berasal dari ajaran Bible (Alkitab), ataukah ia
berasal dari kepercayaan penyembah berhala yang sesat?
Kita
terperangah seakan-akan tidak mau menerima kebenaran ini, karena seluruh dunia
terlanjur telah melakukannya. Lebih aneh lagi, sebagian besar meremehkan dan
mencemooh kebenaran ini. Namun Tuhan telah berfirman kepada para utusannya yang
setia:
“Katakan dengan lantang, dan jangan
menghiraukan penghinaan mereka! Kumandangkan suaramu seperti terompet! Dan
tunjukkan di depan umatKu tentang kesesatan mereka!”
Memang
kenyataan ini sungguh sangat mengejutkan bagi mereka, meskipun ini adalah fakta
sejarah dan berdasarkan kebenaran dari Bibel (Alkitab).
Natal
adalah acara ritual yang berasal dari masa Babilonia kuno yang belum mengenal agama
yang benar. Tradisi ini diwariskan puluhan abad yang lampau sampai kepada kita.
Di
Mesir, ia dipercayai bahwa Dewi Isis (Dewi Langit) melahirkan anaknya yang
tunggal pada tanggal 25 Desember. Hampir semua orang-orang penyembah berhala
(paganis) di dunia waktu itu, merayakan ulang tahun (Natal) anak dewi Isis ini
jauh sebelum kelahiran Yesus.
Dengan
demikian, sudah jelas bagi kita bahwa 25 Desember itu bukanlah hari kelahiran
Yesus Kristus. Para murid Yesus dan orang-orang Kristen abad pertama tidak
pernah menyelenggarakan Natal, meskipun hanya sekali. Tidak ada ajaran atau pun
perintah perayaan Natal di dalam Bibel. Sekali lagi, perayaan Natal atau
Christmas itu adalah ulang tahun anak dewa yang dianut oleh para paganis, dan
bukan dari ajaran Kristen. Percaya atau tidak, terserah anda!
Upacara
ini berasal dari cara-cara pemujaan yang dikenal dengan “Chaldean Mysteries”
(Misteri Kaldea) berasal dari ajaran Semiramis, isteri Nimrod. Kemudian adat
ini dilestarikan oleh para penyembah berhala secara turuntemurun hingga
sekarang dengan wajah baru yang disebut Kristen.
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan.
Dari
penjelasan diatas maka dapat di simpulkan bahwa gereja- gereja menjalankan atau
mempertahankan tradisi yang salah secara khusus bagiperayaan Natal.
3.2. Saran.
Gereja-gereja
harus membahas ualang kembali mengenai perayaan Natal secara khusus penanggalan,
bulan dan tahun. Sehingga semuanya sesuai dengan realita yang ada dan juga
ajaran iman Kristen yang berasal dari Alkitab.
DAFTAR
PUSTAKA
The Plain Truth About Christmas By
Herbert W. Armstrong
[PS1]Chek
the right spell
Komentar