GEREJA REFORMASI YOHANES CALVIN WAENA

TUGAS KELOMPOK SEJARAH GEREJA DI TANAH PAPUA

The reformed churches of Indonesia in Papua

GEREJA REFORMASI YOHANES CALVIN WAENA












DISUSUN OLEH:

1.      BILLY SINAY
2.      CICILIA N.JAMBUANI
3.      HANA RUMAIKEUW
4.      IMELDA HUBI
5.      KALPEN ELOPERE
6.      YENI B. ADADIKAM
7.      YULIANA TOWANSIBA





SEKOLAH TINGGI FILSAFAT TEOLOGI GEREJA KRISTEN INJILI
IZAAK SAMUEL KIJNE JAYAPURA
2017/2018

KATA PENGANTAR


            Segala puji dan syukur hanya untuk hormat dan kemuliaan Nama Tuhan, yang oleh karena kasih dan rahmatNya memberi hikmat dan membimbing kelompok kami sehingga kami dapat menyelesaikan tugas kami berupa suatu karya tulis ilmiah, yang mana telah melalui proses pengenalan pada Gereja Reformasi Yohanes Calvin Waena. Tulisan kami masih jauh sekali dari kesempurnaan sebagaimana atau selayaknya suatu karya tulis ilmiah yang baik. Oleh karena itu kami mengharapkan saran dan kritikkan dari pembaca sekalian guna penyempurnaan tulisan kami tetapi juga demi kemajuan ilmu pengetahuan umum tetapi juga pada bidang ilmu Teologi secara khusus.
            Terima kasih atas partisipasi semua orang yang tergabung didalam kelompok XX, dan kami berharap tulisan kami dapat berguna bagi pembaca sekalian dan secara khusus bagi teman-teman yang sedang menempuh pendidikan pada STFT. GKI.I.S.KIJNE JAYAPURA. Kami berharap tahun ini menjadi tahun yang menyenankan bagi kita sekalian dalam belajar tentang Sejarah Gereja di Tanah Papua.


                                                                                                                        Penulis,
                                                                                                                    Kelompok XX












DAFTAR ISI















BAB I

PENDAHULUAN


1.1.           Latar belakang.


Negara kita Indonesia terdiri dari ribuan pulau, yang seluruhnya 63 kali lebih luas daripada Belanda[1]. Tidak hanya luas, negara kita juga kaya akan berbagai macam keanekaragaman suku, adat-istiadat, budaya, bahasa, dan agama. Kita tahu bahwa agama terbesar di Indonesia pada saat ini adalah agama Islam yang di bawah masuk ke kepulauan Indonesia melalui Sumatera Utara pada aba ke-13 melalui pedagan-pedagan Hindia, Arab, dan Persia. Kemudian yang menjadi agama terbesar kedua ialah agama Kristen Protestan yang di dalamnya terdapat berbagai dominasi gereja. Penduduk yang beragama Kristen sering mendengar atau menyadari dengan sesungguhnya bahwa agama mereka sesungguhnya adalah hasil Impor yang di bawah oleh bangsa-bangsa asing, hal ini memang benar adanya bahwa agama kita Kristen berasal dari negara-negara lain di dunia melalui misionaris-misionaris Khatolik seiring dengan perkembangan zaman berdangan yang berkembang pada tahun 1619 oleh bangsa Portugis dan Inggris[2]. Gereja-gereja di Indonesia pada zaman ini memperlihatkan bahwa sejak abad ke 19 dan ke 20 banyak gereja didirikan oleh berbagai dominasi baik dari luar maupun dari dalam Indonesia. Sebagai informasi tambahan sejak tahun 1950, sebagian gereja protestan telah mengabungkan diri dalam Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) dan menjadi bagian dari Dewan Gereja-gereja Se-Dunia (world council of churches-WCC).
Gereja Reformasi merupakan salah satu dominasi gereja yang ada di Indonesia secara khusus di Tanah Papua, Sumba, dan Kalimantan Barat. Dengan demikian berdirilah Gereja-gereja Reformasi di Indonesia (GGRI). Banyaknya dominasi yang ada melatarbelakangi kegiatan proses pengenalan pada Gereja Reformasi Yohanes Calvin Waena yang juga mempunyai sejarah tersendiri mengenai proses masuknya hingga perkembangannya dalam menjalani misi dan visinya dalam melayani Tuhan. Dan juga agar terjalin hubungan kerja sama yang baik antar dominasi gereja di Tanah papua.

1.2.           Tujuan Pengenalan.



Proses pengenalan ini dilakukan dengan tujuan:
Ø  Untuk belajar tentang sejarah umum Gereja-gereja Reformasi di Indonesia.
Ø  Untuk belajar tentang sejarah Gereja Reformasi Yohanes Calvin Waena.
Ø  Mempelajari bentuk peribadatan.dari Gereja Reformasi Yohanes Calvin Waena.
Ø  Belajar mengenal ajaran gereja Reformasi Yohanes Calvin Waena.
Ø  Untuk belajar mengenai proses perekrutan hamba Tuhan.































BAB II

GEREJA REFORMASI YOHANES CALVIN WAENA

 

2.1. Sejarah Umum Gereja Reformasi di Indonesia.


Calvinisme merupakan aliran penting dalam sejarah gereja Kristen yang am pada umumnya, dan gereja-gereja Protestan pada khususnya. Sejak abad ke 16, pemikiran Calvin berpengaruh besar di negeri Belanda dan di Inggris. Dari sana aliran itu berpengaruh besar ke Amerika Utara, Afrika, dan beberapa bagian Asia, terutama ke Indonesia dan  Korea, juga India, RRC, Jepang, dan negara-negara lain. Di bawah ini merupakan latar belakang dari pada masuknya Injil dari pada Gereja Reformasi di Indonesia dan lebih khususnya di Papua.
Pada tahun-tahun pertama sesudah perang dunia ke II. Itulah di mana GGRI secara historis menanamkan akar-akarnya. Perkembangan di dunia kehidupan gereja Belanda, yang menyebabkan lahirnya Greformeerde Kerken Vrijgemaakt atau GKV (Gereja–gereja Reformasi yang di bebaskan) dari gereja Hervormd pada tahun 1944/1945.
Seperti semua gereja Protestan, GKV pun mempunyai akar-akarnya dalam Reformasi Agung yang terjadi pada abad ke -16. Di Belanda, reformasi ini tidak terutama di pengaruhi oleh Martin Luther, tetapi juga oleh Yohanes Calvin. Gereja-gereja yang lahir pada  Reformasi Agung di Belanda  pertama-tama di sebut Hervormde Kerken ( Herformad berarti “direformasikan”) pada mulanya gereja-gereja itu mempunyai pengaruh besar  terhadap negara dan masyarakat Belanda dan sangat lama  berstatus  resmi sebagai  gereja negara. Sampai sekarang pun keluarga Ratu Belanda harus terdaftar sebagai anggota jemaat gereja itu dan selama beberapa abad (Sekarang sudah tidak lagi) para pendetanya di gaji oleh khas negara. Didalam gereja Herformr itu kita mengenal beraneka ragam perbedaan Etis, Ortodoks, Liberal dan sebagainya. Sikap toleran terhadap adanya perbedaan-perbedaan yang besar itu pada akhirnya melahirkan toleransi  juga terhadap ajaran sesat di dalam gereja ini di pengaruhi oleh pemikiran pencerahan (Enlightnment), filsafat dan spikologi duniawi,beberapa sekolah teologi mengembangkan apa yang di sebut teologi modern dan kritis  sehingga terbuka kesempatan bagi berkembangannya  liberalisme dan kritik terhadap  fondasi Gereja,yaitu Alkitab[3].
 Sudah pasti orang-orang ingin tetap setia pada ajaran Alkitabiah (yang Ortodoks) tidak menyetujui perkembangan di dalam Gereja Hervormd ada di Sekolah Teologi-Teologi tersebut.
Kemudian terjadilah Afscheiding (pemisahan) pada tahun 1834. Gereja-gereja ini menyebut dirinya pada waktu itu “Gereja-gereja Kristen Gereformeed” oleh karena itu terjadi pemisahan lagi pada tahun 1886 yang dinamakan Doleansi. Gereja-gereja ini menamakan diri Gereja-gereja Gereformeerd Belanda pada tahun 1892 kedua kelompok yang memisahkan diri itu membentuk persatuan. Gereja yang bersatu itu mengangkat nama gereja yang lahir pada tahun 1886 tadi  sebagai  “Gereja-gereja  Gereformeed di Belanda”  akan tetapi, sebagian gereja yang  termasuk dalam gereja-gereja Kristen gereformeed ( Christelijk Gereformeerde Kerken-CGK) tidak setuju dan menolak bergabung dengan persatuan itu. Sampai saat ini pun di bawah nama yang sama, yaitu CGK, mereka membentuk denominasi gereja yang akan kita jumpai lagi berkaitan dengan relasi antara GGRI dengan gereja-gereja reformasi lain di Indonesia. Sementara itu gereja-gereja Gerevormeed di Belanda berkembang pesat mula-mula di bawah pimpinan Abraham Kuyper, sang penggerak Doleansi[4].
Sebelum pecah perang dunia ke II, perbedaan pendapat tentang kekuatan perjanjian Anugersh dan arti babtisan anak-anak di dalam Gereja Gerevormeerd di Belanda (GKN) tampak jelas. Namun,sebagai wawasan dalam ajaran ini ditindas oleh Sinode Gereja dengan mengeluarkan sejumlah “rumusan ajaran yang mengikat”, sehubungan dengan itu, mereka memutuskan menskors orang-orang yang tidak mau mentaati keputusan-keputusan Sinode itu,terutam seorang  tokoh Gereja Klaas Schilder, profesor  teologi di Sekolah Tinggi di Kampen. Dengan tindakan sinodal itu, hati nurani sejumlah teolog yang baik hendak di kendalikan. Ketika para teolog itu menolak rumusan ajaran Sinode tersebut mereka diskors oleh sinode GKN. Hal itu terjadi pada tahun 1944. Bagi sejumlah besar pendeta dan tua-tua tidak ada jalan lain kecuali “membebaskan diri” (vrijmaking) dari paksaan (hierarki) sinode. Dari situ lahirlah Gereja-Gereja Gerevormeerd yang dibebaskan (GKV). Dengan demikian, tambahan kata “dibebaskan” sudah menjadi jelas. GKV mempunyai keinginan keras untuk hidup sebagai “gereja yang benar” sesuai dengan garis Refomasi Agung. Mereka ingin pula mempertahankan segala sesuatu yang berhubungan dengan garis itu, sebagaimana di akui dalam pengakuan Iman Belanda art.27, 28 dan 29[5].
Semula gereja-gereja ini berorganisasi dengan giat dalam berbagai struktur masyarakat dan memiliki partai politiknya sendiri yang kecil, tetapi dihargai umum (persetujuan politik Gereformeed, yang mewakili wakil didalam perwakilan rakyat). Mereka membuka sekolah-sekolahnya dengan identitas reformed pada tingkat dasar, menegah dan atas. Mereka juga mengelolah Universitas Teologi di kampen (TUK).  Bahkan sampai sekarang gereja-gereja ini masih dengan giat melakukan pembicara bersama dengan gereja-gereja reformed lain yang setia, yaitu dengan gereja-gereja Kristen Gereformeerd (NGK, yang lahir pada tahun 1969 sebagai akibat skisma di GKV). Memang prosesnya tidaklah mudah, tetapi faktanya gereja-gereja ini secara resmi setuju untuk saling mengakui sebagai gereja-gereja Kristus yang benar[6].
Gereja yang konveresional, GKV di bentuk di atas fondasi Firman Allah yang Kudus sebagaimana firman itu datang di dalam Alkitab kepada kita. Paulus merumuskannya sebagai berikut: “Yang di bangun di atas para rasul dan para nabi, dengan Kristus sebagai batu penjuru. Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan itu, rapi tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan. Di dalam Dia kamu juga turut di bangun menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh” (Efesus 2:20-22).
Seiring perjalanan waktu selama berabad-abad, terbentuklah fondasi historis, yaitu pengakuan-pengakuan iman yang melaluinya kita mengakui kepribadian Roh Allah untuk mempersatukan dan memelihara Gereja Kristus. Pengakuan Iman Reformasi (PIR) mengungkapkan dengan jelas sifat dokumen-dokumen semacam itu, yakni menjaga terpeliharanya otoritas mutlak, kesempurnaan dan kekuaran kitab suci.
Hal itu menghapus kenyataan bahwa gereja-gereja berkewajiban untuk menentukan pendapatnya dengan yakin dan memberikan kesaksian tentang imannya di mana pun dan kapan pun Allah berkenan membuat gereja-gereja hidup dan berkembang. Yang di perlukan ialah ketaatan dan keberanian untk mempertahankan ajaran yang benar. (1 Tim. 1:10:4:3) Ketiga pengakuaanya antara lain:
1.      Pengakuan Iman Rasuli
2.      Pengakuan Iman Nicea dan
3.      Pengakuan Iman Athanasius[7].
Sesudah terjadinya pembebasan (1944), sebuah gereja yang masih mudah dihadapkan pada tugas yang jelas dari firman Allah untuk tampil di segala front. Banyak pendeta, tua-tua dan kaum awam telah mengikuti gereja pembebasan (GKV) itu. Mereka penuh dengan Roh Kudus dan sangat mengasihi gereja dan pekerjaan Allah, serta ingin aktif bekerja untuk menyelesaikan tugas yang di wajibkan Allah kepadanya.  Itu berarti bekerja keras baik di dalam gereja maupun di luar gereja, yaitu aktif di dalam masyarakat di mana tempat gereja itu berada. Tugas pemberitaan injil di lakukan di kota-kota dan di desa-desa Belanda. Di samping itu, gereja merasa bertanggung jawab untuk mentaati perintah pemberitaan injil yang di berikan Kristus pada gereja-Nya (Amanat Agung, Matius 28:19-20).
            Baru pada tahun 1951, dengan pengutusan seorang pendeta misioner ke Kalimantan Barat, secara struktural GKV mencari daerah-daerah Zending baru. Mereka ingin mengabarkan Injil dengan maksud mendirikan gereja-gereja di luar wilayah Belanda.
            Walaupun pekerjaan pekabaran Injil belum terlalu aktif di lakukan, GKV sudah mulai mengembangkan kebijakannya di bidang Zending secara misiologi dan organisatoris. Dapat di katakan bahwa GKV tidak melalaikan tugas pertama yang di berikan oleh gereja.
Keputusan yang di ambil GKV pada tahun 1951 itu kemudian di laksanakan. Hasilnya adalah pekerjaan Zending di lakukan di Sumba melalui gereja misioner di Zwolle, pekerjaan Zending di Kalimantan Barat melalui gereja misioner di Drachten, pekerjaan Zending di Papua melalui gereja-gereja misioner di Enschede Utara, Spakenburg Selatan, Groningen utara dan Toronto (kerja sama dengan Canadian Reformed Churches).
Kemudian, GKV di middellburg juga di libatkan untuk bekerja secara aktif di Papua sebagai gereja misioner. Selain itu beberapa proyek misioner di Belanda sendiri di tangani oleh GKV. Mereka juga yakin bahwa pekerjaan Zending gerejawi bukan saja harus melayani “Firman” melainkan juga  melakukan “perbuatan”  dalam hal ini pelayanan diakonia[8].
Sejajar dengan organisasi  pekerjaan Zending, GKV  juga memprakarsai organisasi pekerjaan kasih sekurang-kurangnya 50 tahun yang lalu, di kalangan GKV sudah di akui prinsip bahwa pelayanan kasih merupakan tugas inti gereja di dunia, baik di dalam maupun di luar jemaat. Keyakinan bahwa pemberitaan firman harus di sertai dengan pelayanan diakonia bertambah kuat. BukaN saja “Firman”, melaikan juga “Kelakuan” mendapat penekanan penting sebagai tugas gereja. Pekerjaan kasih itu di serahkan pada prakarsa-prakarsa partikelir (swasta), seperti yayasan-yayasan kasih amal[9].

           

2.2. Sejarah Gereja Reformasi Yohanes Calvin Waena.


Identitas Gereja:
v  Nama Gereja                            : Gereja Reformasi Yohanes Calvin Waena
v  Alamat                                     : Jln.Yoka,Distrik Heram,Kotamadya Jayapura Papua
v  Nama Pemimpin BP Sinode     : Pdt. Yan Korop, S.Th
v  Nama Pemimpin Jemaat                      : Pdt. Yan Richard Wambraw, M.Th.
v  Visi: Dalam kesatuan, tiap anggota menjadi murid Kristus yang belajar mengenal Allah dan memperkenalkan Allah dalam hidup sehari-sehari.
v  Misi: Mendorong setiap anggota jemaat untuk mengenal Allah dan kehendakNya seperti yang dinyatakan di dalam firmanNya dan diringkaskan di dalam pengakuan-pengakuan iman. Mendorong anggota-anggota jemaat untuk aktif memberitakan Injil Yesus Kristus kepada orang lain. Mengembangkan persekutuan diantar anggota jemaat. Mengupayakan agar anggota-anggota jemaat hidup didalam kasih persaudaraan yang hangat dan akrab. Mempergunakan karunia-karunia anggota jemaat untuk membangun jemaat Tuhan. Mereformasikan kehidupan setiap hari yang menunjukan identitas sebagai imat Tuhan. Membangun hubungan persaudaraan dengan sesama umat Tuhan atas dasar iman yang sama.

 Pada mulanya, Zending Belanda dan pendeta-pendeta Zending yang pertama memusatkan perhatian pada Geelvinkbaai (sekarang teluk Cendrawasih), Biak, Mansinam dan Manokwari. Pada tanggal 5 Februari 1855, dua penginjil, Ottow dan Geissler, turun dari kapal di Mansinam. Mereka di utus oleh yayasan Zending Utrecht (Utrrechtse Zendings Vereninging-UZV)[10]
Mereka memasuki sebuah daerah yang penduduknya belum pernah berkenalan dengan dunia di luar daerah mereka sendiri. Pasifikasi berarti usaha untuk membuat penduduk suatu daerah tidak lagi menunjukan sikap bermusuhan dari orang-orang dari luar dan juga supaya suku-suka di daerah itu meninggalkan kebiasaan saling berperang dan melancarkan aksi balas dendam. Pada waktu itu perang antar suku masih terjadi hampir setiap hari di daerah aliran sungai Mapi, Digul, Ndeiram dan Siret, di sertai dengan pemenggalan kepala dan kanibalisme yang membuat siapa saja merasa takut.
Suatu daerah yang dihuni oleh banyak suku, masing-masing dengan bahasanya sendiri, yaitu:
·         Di wilayah aliran Digul: suku Mandobo (Wanggom, Wambon, Sait, Morob) dan Muyu sebelah timur.
·         Di aliran Mapi-Mangguno: suku Awyu (Awyu dan Jair) dan Kombay.
·         Di aliran Ndeiram-Sua: Suku Citak (Sayap yang terpisah dari Asmat) dan Kombay.
·         Di aliran Siret-Kolf: Suku Citak Butukatnau dan Kowet.
·         Wilayah utara antara Kolf dan Digul Atas di diami oleh suku Koroway (Tjakwambo);
Suku-suku yang hidup di daerah yang sangat luas ini, sampai waktu kedatangan Zending ( yang merintis jalan untuk pedagang-pedagang dan pemerintah negara, dengan membawa bukan saja Injil , tetapi juga modernisasi), hidup secara terpencil dan tersendiri dalam dusun-dusun mereka di tengah rimba rawa atau di tengah rimba-rawa atau di tengah pinggir sungai-sungai yang melintasi daerah yang serba hebat ini. Mereka hidup dari rumah-rumah yang terbuat dari kayu, berdinding gaba-gaba dan beratap daun Sagu, di dekat areal-areal Sagu mereka. Sagu merupakan makanan pokok mereka. Sehari-hari mereka hidup dengan menangkap Ikan, berburu Babi dan Kasuari. Karena banyaknya rumpun suku dan suku-suku yang hidup berdekatan, mereka tidak pernah bebas dari ketakutan akan ancaman musuh. Sering kali perang antar suku terjadi dan berlangsung lama karena adat-istiadat mereka selalu menuntut balas dendam. Jika suatu suku menang perang, mereka sering membawa korban mereka, kepalanya di penggal dan tubuhnya di makan dengan upacara-upacara adat masing-masing. Seluruh kehidupan mereka di liputi ketakutan, bukan saja karena perang suku, melainkan juga karena kepercayaan animisme mereka. Yang percaya bahwa beraneka ragam setan dan dewa menghuni pohon-pohon di sekeliling dusun mereka, atau di atap rumah, di tanah atau sungai. Kehidupan di dalam suku pun di pengaruhi oleh ketakutan terhadap sesamanya dari suku yang sama karena adanya kepercayaan terhadap mau-mau (guna-guna, seperti kakuaremu) yang menguasai gerak-gerik mereka setiap hari. Kesakitan dan penderitaan terjadi akibat mau-mau itu dan perlu di sembuhkan (di balas) melalui mau-mau pula.  Mereka tidak pernah bebas dari kecurigaan-kecurigaan terhadap sesamanya, bahkan antar suami dan istri-istrinya.
            Dalam keadaan dan lingkungan yang sedemikian rumit, jelas pekabaran Injil tidak akan di terima dengan cepat dan gampang apalagi seluruh perkembangan dan perubahan yang di picu oleh kedatangan Zending ke daerah ini. Dengan keberanian dan kepercayaan kepada Tuhan Zending pun mulai masuk[11].
Pekabaran injil di daerah Digul berawal pada tahun 1958, ketika Pdt. M.K.Drost datang ke Tanah Merah. Dia pergi dalam rangka perjalanan peninjauan dengan maksud mencari kemungkinan bagi GKV untuk mengabarkan Injil dan mendirikan gereja di daerah itu. Drost mengadakan pembicaraan dengan pemerintah Belanda (yang berkuasa pada waktu itu) di Mereauke dan di Tanah Merah. Ternyata mereka mendukung niatnya untuk memulai pekerjaan Zending di Digul atas. Seperti halnya di beberapa tempat lain di Indonesia, di sini pun motif pemerintah tidak terletak di bidang keagamaan. Keuntungan bagi pemerintah ialah Zending melakukan “pembukaan daerah” dan “pasifikasi”. Pembukaan daerah artinya mereka memasuki sebuah daerah yang penduduknya belum pernah berkenalan dengan dunia di luar daerah mereka sendiri. Pasifikasi berarti usaha untuk membuat penduduk suatu daerah tidak lagi menunjukan sikap permusuhan kepada orang-orang dari luar, dan juga supaya suku-suku di daerah itu meninggalkan kebiasaan saling berperang dan melancarkan aksi balas dendam. Pada waktu itu, perang antar suku masih terjadi setiap hari di daerah aliran sungai Mapi, Digul, Ndeiram dan Siret di sertai dengan peristiwa pemenggalan kepala dan kanibalisme yang membuat siapa saja merasa takut.
Pada awal tahun 1957, rumah-rumah Zending yang pertama di bangun di Tanah Merah. Pada bulan September 1957 di lakukan pelayaran yang pertama dengan kapal kecil Ichtus, dengan juru mudi Yakob Deda. Pelayaran itu menuju dusun Kouh, yang pada waktu itu hanya ada empat rumah penduduk, lalu ke Aroep, yang di huni oleh orang-orang yang kemudian pindah ke Kawagit. Pelayaran itu menyusuri seluruh sungai Kasuari. Kontak-kontak pertama di jalin dengan beberapa pria yang dengan penuh kecurigaan memberanikan diri untuk bertemu muka dengan rombongan di kapal itu. Waktu itu tidak tampak adanya sikap yang bermusuhan, tetapi pertemuan pertama dengan manusia aneh yang berbeda dengan mereka karena berkulit putih, rambut lurus, hidung mancung, dan mata biru. Jelas-jelas merupakan pengalaman yang menakutkan bagi mereka. Mula-mula mereka menyangka bahwa itu bukan manusia, tetapi arwah orang mati yang di temukan[12].
Kalau kita bandingkan infrastruktur Papua (daerah ZGK/GGRI) dengan infasrtuktur Kalimantan Barat atau Sumba artinya jalan-jalan, sungai-sungai, alat-alat komunikasi, dan seterusnya. Yang ada hanya sungai-sungai, kali-kali kecil dan jalan-jalan setapak yang melintasi hutan yang di tumbuhi belukar, akar, rotan berduri. Siapa yang berani berjalan di situ pasti bertemu dengan Ular, Nyamuk, Lintah dan banjir. Tidak ada kendaraan seperti mobil, taksi, bus, sepeda atau becak. Siapa yang mau jalan dari satu tempat ke tempat lain hanya bisa melakukannya dengan jalan kaki, mendayung perahu, atau memakai perahu tempel, kalau ada uang yang cukup bisa juga terbang dengan helikopter, pesawart air atau pesawat udara. Lingkungan semacam ini menghadapkan ZGK dan GGRI terhadap suatu komplikasi yang luar biasa, khususnya juga bagi suatu gereja yang ingin memenuhi syarat-syarat rumah tangga Reformed.
Meskipun begitu, makin banyak pekerja Zending yang memasuki daerah-daerah itu hanya dengan daerah payung atau perahu bermoto tempel. Akan tetapi, kerja sama dengan MAF (mission Aviation Fellowship) sangat besar artinya bagi pembangunan wilayah itu. Pos Boma menduduki tempat yang sentral di seluruh daerah Zending itu. Pada tahun 1983, MAF juga memiliki pos dengan suatu pesawat air dan seorang pilot yang menetap di Boma pada tahun-tahun itu. Untuk pembukaan Kombay dan Koroway, sarana helikopter memainkan peranan yang sangat penting. [13]
GGRI-P mayoritasnya di Selatan khususnya terbanyak anggota jemaat dan jemaat di Boven Digoel, kemudian kabupaten Mapi, Asmat. Salah satu hal yang menjadi dasar jemaat Johanis Calvin didirikan, karena pada waktu itu ada anggota jemaat dari GGRI-P diselatan yaitu guru-guru yang melanjutkan pendidikan ke Uncen di Jayapura. Ketika mereka datang untuk lanjut kuliah itu tahun 80-an atau 86, ketika mereka datang untuk kuliah. Pada waktu itu GGRI-P belum ada di Jayapura. Jadinya mereka ibadah di rumah-rumah, beberapa tahun kemudian anak-anak dari selatan, yang tamatan pendidikan SMP dan pada waktu itu SMA belum ada diselatan, sehingga mereka datanguntuk melanjutkan  pendidikan ditingkat SMA dan SMK, lalu mereka bergabung dengan guru-guru yang sudah lebih dulu ada di Jayapura dan beribadah bersama-sama dengan mereka. Jadi GGRI-P Johanis Calvin Waena, kehadirannya bukan untuk menjangkau anggota jemaat lain, tetapi kehadirannya untuk melayani mahasiswa/i, pelajar yang menempuh pendidikan di Kota Jayapura. Jemaat Johanis Calvin Waena mayoritasnya mahsiswa/i dan pelajar. Pegawai Negeri hanya tiga orang, itupun yang dari selatan yang datang kuliah dan oleh berkat Tuhan mereka bekerja di Jayapura sehingga mereka tetap ada dan mendukung pekerjaan pelayanan di jemaat Johanis Calvin Waena. Jadi jemaat waena sendiri mulai ada tahun 1986, namun secara definitif gedung baru sekitar tahun 1989 baru mulai didirikan di Waena. Pada waktu itu anggota jemaat yang tersebar di Sentani bahkan Jayapura, lalu sekitar tahun 2001 anggota jemaat yang di Sentani mereka berpikir bahwa dari pada tiap minggu ke Waena jarak jauh, akhirnya mereka memutuskan membuka satu jemaat di Sentani[14].

 

2.3. Bentuk Peribadatan


Ø  Tata Ibadah:
Belum ditetapkan oleh Sinode, tetapi diberikan kewenangan kepada Majelis jemaat lokal. Tetapi formulir untuk babtisan anak, babtisan dewasa, sidi, pengakuan dosa, perjamuan Kudus, Pengucilan (disiplin gereja), Peneguhan pendeta, Peneguhan penatua, peneguhan diaken dan peneguhan nikah ditetapkan oleh Sinode dan digunakan oleh Sinode dan digunakan oleh pendeta-pendeta[15].
Ø  Nyanyian:
Nyanyian Mazmur dan Nyanyian Rohani (Diindonesiakan oleh I.S.KIJNE)[16].

Ø  Pengkhotbah:
Pendeta, Penginjil, atau Penatua[17].
Ø  Sebutan untuk pelayannya:
Pendeta atau Pelayan Firman[18].
Ø  Pakaian pengkhotbah:
Bebas rapi (sedang mengarah ke pakaian jabatan)[19].
Ø  Letak mimbar dan Altar:
Berada di tengah ruangan ibadah[20].
Ø  Jabatan-jabatan dalam gereja:
Pendeta, Penatua dan Diaken[21].
1.      Peran Pendeta: Melayani Firman serta sakramen-sakramen serta memperhatikan kawan-kawan pejabat mereka (penatua-penatua) serta jemaat. Bersama-sama penatua melayani siasat dan berjaga-jaga supaya segala sesuatu dikejarkan dengan cara yang patut dan teratur[22].
2.      Peran Penatua: Menggembalakan dan memerintah jemaat bersama-sama dengan pendeta-pendeta. Mereka memperhatikan bahwa pelayan-pelayan, penatua-penatua dan diaken melaksanakan jabatnnya dengan setia. Mereka mengunjungi anggota-anggota jemaat dalam rumahnya satu kali setahun. Tambah pula mereka melayani siasat bersama-sama dengan pendeta-pendeta dan mereka berjaga-jaga supaya segala sesuatu dikerjakan dengan cara yang patut dan teratur[23].
3.      Peran Diaken: Melaksanakan pelayanan rahmat. Mereka akan mengunjungi anggota-anggota jemaat dalam rumahnya untuk mengetahui keadaan mereka, maka mereka akan membantu dan menghibur anggota-anggota yang berkekurangan, serta mendorong anggota-anggota lain untuk membantu[24]. Tambah pula mereka akan memungut dan memelihara sumbangan-sumbangan jemaat dan membagi-bagikannya menurut keputusan bersama kepada yang berkekurangan[25].
Ø  Persembahan:
Kolokte, pengucapan Syukur dan Perpuluhan[26].
Ø  Sakramen: Ada dua yaitu:
1.      Babtisan Kudus (anak dan dewasa).
2.      Perjamuan Kudus: (perjamuan Kudus diadakan empat kali dalam setahun)[27].
Ø  Alkitab :
Alkitab yang digunakan ialah Alkitab terjemahan LAI[28].
Ø  Suasana Ibadah:
Tenang.


2.4.  Ajaran:


v  Yesus Kristus:
Yesus Kristus adalah Allah yang sejati dan kekal, kita percaya bahwa Yesus Kristus, menurut tabiat keAllahan-Nya, adalah Anak Allah yang tunggal, yang diperanakkan dari kekekalan; tidak dijadikan atau diciptakan (sebab seandainya begitu Dia adalah cipataan), tetapi se-zat dengan Bapa,  sama kekal, gambar teraan wujud Bapa dan cahaya kemuliaan-Nya (Ibr 1:13), dalam segala hal setara dengan Dia (Flp 2:6). Dia adalah anak Allah, bukan hanya sejak Dia mengenakan tabiat kita, melainkan dari kekekalan, sebagaimana diajarkan kepada kita oleh kesaksian-kesaksian ini kalau dibandingkan satu dengan yang lain. Musa berkata, bahwa Allah telah menciptakan dunia (Kej 1:1), dan Yohanes berkata, bahwa segala sesuatu di jadikan oleh Firman, yang namakannya Allah ( 1 Yoh 1:3). Sang Rasul berkata, bahwa telah menciptakan alam semesta melalui Anak-Nya (Ibr 1:2), begi pula bahwa Allah telah menciptakan segala sesuatu melalui Yesus Kristus (Kol 1:16). Kesimpulannya ialah, Dia yang dinamakan Allah, Firman, Anak, dan Yesus Kristus sudah ada ketika segala sesuatu diciptakan melalui Dia. Oleh sebab itu Nabi Mikha berkata, Permulaan-Nya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala (Mik 5:1). Dan Sang Rasul berkata, Hari-Nya tidak berawal dan hidup-Nya tidak berkesudahan (Ibr 7:3). Maka Dia adalah Allah sejati dan kekal, Yang Mahakuasa. Kepada Dia kita berseru, menyembah, dan berbakti[29].

v  Disiplin Gereja:
Kata Gereja dan disiplin. Dalam pada itu, kita percaya, memang berguna dan baik adanya, bahwa mereka yang memerintahkan Gereja menetapkan dan mempertahankan secara bersama tata Gereja yang tertentu guna memelihara tubuh gereja. Namun haruslah mereka berhati – hati agar jangan sampai menyimpang dari apa yang diperintahkan kepada kita oleh Kristus, dan satu satunya Guru kita. Oleh karena itu, kita menolak segala rekaan manusiawi dan undang – undang yang sedang dimaksukkan dan menjaga persekutuan dan persatuan, dan untuk mengasuh semunanya dala ketaatan kepada Allah untuk itu dibutuhkan pengecualian atau pengasingan dari gereja, yang terjadi menurut Firman Allah, bersama segala sesuatu yang bersangkut – paut dengannya.
v  Alkitab:
Sarana untuk mengenal Allah kita mengenal Dia melalui dua sarana. Pertama, melalui penciptaan, pemeliharaan, dan pemerintahan seluruh alam. Sebab di depan mata kita alam itu bagaikan buku yang indah, yang didalamnya segala ciptaan Allah, yang besar maupun yang kecil, menjadi sperti huruf-huruf yang menyatakan kepada kita apa yang tidak tampak dari Allah, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, menurut perkataan Rasul Paulus dalam Roma 1:20. Semua itu cukup untuk membuktikkan kesalahan manusia sehingga mereka tidak dapat berdalih.Kedua, Dia memperkenalkan diri kepada kita dengan lebih jelas dan sempurna lagi oleh Firman-Nya yang kudus dan ilahi, yaitu sekadar kebutuhan kita dalam hidup ini, demi keliaan-Nya dan demi keselamatan orang-orang milik-Nya. Firman Allah ini tidak di sampaikan atau dihasilkan oleh kehendak manusia. Kita mengaku, bahwa Firman Allah ini tidak disampaikan atau dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas Nama Allah, menurut perkataan Rasul Petrus dalam 2 Petrus 1:21. Sesudah itu Allah, karena perhatian-Nya yang khusus kepada kita dan keselamatan kita, menyuruh hamba-hamba-Nya, yaitu Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul, membukukkan Firman-Nya yang telah dinyatakan. Dan Dia sendiri menulis dengan jari-Nya kedua loh Batu Taurat. Oleh karena itu, kita menyebut tulisan-tulisan yang demikian Kitab-kitab suci dan Ilahi. Kitab-kitab kanonik. Kita mengelompokkan Kitab suci menjadi dua buku, yaitu Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Kedua buku ini adalah kitab-kitab kanonik, yang tidak dapat dibantah. Kitab-kitab tersebut didaftar di dalam gereja Allah sebagai berikut: Kitab-kitab Perjanjian Lama: kelima kitab Musa, yaitu Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan, Kitab Yosua, Kitab Hakim-Hakim, Kitab Rut, kedua Kitab Samuel, kedua Kitab Raja-raja, kedua Kitab Tawarikh, Kitab Ezra yang pertama, Kitab Nehemia, Ester, Ayub, Mazmur Daud, Ketiga Kitab Salomo yaitu Amsal, Pengkhotbah, Kidung Agung, Kitan keempat nabi yang besar, yaitu Yesaya, Yeremia, Yehezkiel, dan Daniel, dan selanjutnya Kedua belas nabi lainnya yang kecil yaitu Hosea, Yoel, Amos, Obaja, Yunus, Mikha, Nahum, Habakuk, Zefanya, Hagai, Zakharia, Maleakhi. Sedangkan Perjanian Baru: Keempat pengarang Kitab Injil, yaitu Matius, Markus, Lukas, Yohanes, Kisah Para Rasul, Keempat belas Surat Rasul Paulus, yaitu kepada jemaat di Roma, dua kepada Jemaat Korintus, kepada Jemaat Galatia, Efsus, Filipi, Kolose, dua kepada Jemaat di Tesalonika, dua kepada Timotius, kepada Titus, kepada Filemon, kepada orang Ibrani, Ketujuh Surat Rasul-Rasul lain, yaitu Surat Yakobus, dua Surat Petrus, tiga Surat Yohanes, Surat Yudas, dan Wahyu kepada Yohanes. Dasar Kewibawaan Kitab suci. Hanya semua kitab ini saja kita terima sebagai kitab-kitab suci dan kanonik, agar menjadi patokan, asas, dan penyangga iman kita. Dan kita percaya akan semua hal yang tercakup di dalamnya, dengan tidak menaruh wasangka. Bukan hanya karena Gereja menerimanya, dan menganggapnya begitu, melainkan terutama karena Roh Kudus menyasikkan di dalam hati kita, bahwa kitab-kitab ini berasal dari Allah, dan juga karena bukti tentang hal itu terkandung di dalamnya, mengingat orang buta pun dapat meraba, bahwa apa yang dinubuatkan di dalamnya sungguh terjadi. Perbedaan antara Kitab-Kitab Kanonik dan Kitab-Kitab Apokrif. Kita membedakan antara Kitab-kitab kudus ini dan Kitab-kitab Apokrif, yakni Kitab Ezra yang ketiga dan keempat, Kitab Tobit, Kitab Yudit, Kitab Kebijaksanaan, Putera Sirakh, Barukh, Tambahan-tambahan pada Kisah Ester, Doa ketiga orang dalam perapian, Kitab Susana, patung Bel dan Naga, Doa Manasye, dan kedua Kitab Makabe. Gereja memang boleh membaca kitab-kitab ini dan mengambil pelajaran-pelajaran dari dalamnya juga, sejauh isinya sesuai dengan Kitab-kitab Kanonik. Akan tetapi, Kitab-kitab Apokrif ini tidak mempunyai kekuatan dan kuasa yang begitu rupa, sehingga melalui kesaksian apa saja dari dalamnya orang dapat meneguhkan satu pasal sekalipun dari iman atau dari agama Kristen. Lebih-lebih, kitab-kitab itu tidak mungkin mengurangi wibawa kitab-kitab lain, yang suci. Kesempurnaan Kitab Suci sebagai satu-satunya patokan bagi iman kita. Kita percaya, bahwa Kitab suci ini berisi kehendak Allah secara sempurna, dan bahwa segala sesuatu yang harus dipercayai manusia untuk diselamatkan diajarakan di dalamnya denga secukupnya. Sebab seluruh cara berbakti yang dituntut Allah dari Kita tertulis di dalamya dengan panjang lebar. Oleh karena itu, tidak boleh seorang pun, sekalipun ia seorang rasul, membawa ajaran lain daripada yang telah diajarkan kepada kita oleh Kitab Suci, bahkan sekalipun ia seorang malaikat dari surga menurut perkataan rasul Paulus dalam Galatia 1:8. Larangan menambahi atau mengurangi Firman Allah (bnd Ul 12:32) menunjukkan betapa ajarannya sempurna dan lengkap. Juga tidak boleh tulisan-tulisan manusia, betapapun sucinya, disamakan dengan Kitab-kitab ilahi. Pun tidak boleh kebiasaan disamakan dengan kebenaran Allah, (sebab kebenaran melebihi segala sesuatu), atau jumlah besar orang, atau ketuaan, atau suseksi zaman atau Orang, atau konsili-konsili, dektrit-dektrit atau keputusan-keputusan. Sebab sekalian orang adalah sumber dusta dan puncak kesia-kesiaan (Mzm 62:10). Oleh sebab itu, kita menolak dengan sepenuh hati segala sesuatu yang tidak sesuai dengan patokan yang tidak dapat bersalah itu, sebagaimana diajarkan kepada kita oleh para rasul, katanya, ujilah roh-roh, apakah mereka berasal dari Allah (1 Yoh 4:1), begitu juga, jikalau seorang datang kepadamu, dan Ia tidak membawa ajaran ini. Janganlah kamu menerima dia di dalam rumahmu (2 Yoh 10)[30].

Ø  Eklesiologi:
Gereja Kristen yang Am. Kita percaya dan mengaku satu Gereja yang Katolik atau Am , yang adalah perkumpulan Kudus orang-orang yang sungguh – sungguh percaya kepada Kristus, yang mengharapkan segenap keselamatan dalam Kristus, yang mengharapkan segenap keselamatan mereka dalam Yesus Kristus yang telah dicuci oleh darah-Nya, yang dikuduskan dan dimeteraikan oleh Roh Kudus. Gereja ini sudah ada sejak awal dunia dan akan ada sampai ahkir zaman, mengingat Kristus adalah seorang Raja yang Kekal, yang tidak bisa memiliki rakyat. Dan Gereja yang Kudus ini dipelihara atau dipertahankan Allah terhadap amukan seluruh dunia, meskipun kadang-kadang selama beberapa waktu Gereja itu tampak sangat kecil di mata orang bahkan rupanya sudah punah. Tambahan lagi gereja yang Kudus ini tidak terletak, tidak terikat atau terbatas pada tempat tertentu, tetapi gereja itu tersebar dan terserak diseluruh dunia. Namun gereja itu dikumpulkan dan dipersatukan, sehati sekehendak, oleh kuasa iman. Kewajiban semua orang untuk bergabung dengan gereja yang sejati kita percaya, karena perkumpulan yang kudus ini adalah perhimpunan orang – orang yang diselamatkan, dan karena diluarnya tidak ada keselamatan, maka tidak seorang pun – bagaimanapun tingkat dan kualitasnya patut mengasingkan diri untuk berdiri sendiri dengan seenaknya. Sebaliknya mereka semua bergabung dengan perkumpulan ini dan bersatu denganNya, seraya memelihara kesatuan Gereja, tunduk kepada pengajarannya dan disiplinnya, dan menunduk tengkuknya dibawah kuk Yesus Kristus, mereka harus melayani pembinaan saudara – saudaran, menurut karunia – karunia yang dianugerahkan Allah kepadanya, sebagai seorang yang bersaman – sama menjadi anggota tubuh. Supaya hal ini dapat dipegang dengan lebih baik lagi, maka menurut Firman Allah semua orang percaya wajib melepaskan melepaskan hubungan dengan orang yang tidak termasuk Gereja dan bergabung dengan perkumpulan ini, di manapun Allah menempatkannya. Oleh sebab itu, semua orang memisahkan diri dari gereja ini atau tidak bergabung dengannya melawan pilihan Allah. Perbedaan antara Gereja yang sejati dan gereja yang palsu serta ciri – ciri masing – masing. Kita percaya, bahwa orang patut berupaya dengan saksama dan cermat berdasarkan firman Allah, agar mengenali gereja yang sejatih, sebab segala bidan yang dewasa ini terdapat di dunia bersembunyi dibawah nama Gereja. Disini kita tidak berkata – kata tentang golongan orang munafik, yang di dalam Gereja tercampur dengan orang – orang yang baik namun tidak termasuk di dalam, meskipun mereka secara jasmani berada didalamnya. Akan tetapi, kita berkata bahwa patutlah orang membedakan antara tubuh serta persekutuan Gereja yang sejati. Ciri – ciri pengenalan Gereja yang sejati  ialah, jikalau Gereja memakai pemberitaan Injil yang murni, jikalau Gereja memakai pelayanan sakramen – sakramen yang nurani sebagaimana ditetapkan Kristus, jikalau diselengarakan disiplin gereja untuk menghukum dosa. Pendeknya, jika orang bertindak sesuai dengan Firman Allah yang murni dengan normal segala sesuatu yang bertentangan dengannya.  Adapun orang – orang yang termasuk gereja itu dapat dikenali dari ciri – ciri orang Kristen, itu dari iman, dan jikalau mereka, setelah menerima satu – satunya Juruselamat Yesus Kristus, menjauhi dosa dan mengejar kebenaran, mengasihi Allah yang sejati dan sesamanya manusia, tidak menyimpan ke kanan dan ke kiri dan menyalibkan dagingnya serta segala perbuatanya. Namun hal itu tidak berarti bahwa tidak ada lagi kelemahan besar pada mereka. Akan tetapi mereka berjuang melawan kelemahan itu dalam setiap hari – hari kehidupannya, sambil terus – menerus pada darah, kematian, sengsara, dan ketaatan Tuhan Yesus. Di dalam-Nya mereka beroleh pengampunan dosa oleh imam kepada-Nya. Adapun gereja yang palsu menganggap dirinya dan peraturannya lebih berkuasa dan berwewenag dari pada Firman Allah, dan tidak mau tunduk pada kuk Kristus; ia tidak melayankan sakramen – sakramen dengan cara yang ditetapkan Kristus dalam Firman-Nya, tetapi mengurangi dan menambahinya dengan semau – maunya. Gereja yang palsu lebih tertumpu pada manusia di bandingkan kepada Kristus. Gereja palsu tidak menganiaya orang yang hidup suci menurut Firman Allah dan yang menegurnya karena cacatnya, dan karena menyembah berhala – berhala. Karena gereja ini bengan mudah dikenali dan dibedakan satu sama lain. Pemerintahan gereja oleh jabatan – jabatan gerejawi. Kita percaya bahwa Gereja yang sejati itu  harus di perintahkan menurut tatanan Rohani yang di ajarkan Tuhan kepada kita dalam Firman-Nya yaitu, bahwa harus ada pelayan – pelayan atau gembala – gembala, untuk memberitahkan Firman Allah dan melayankan sakramen – sakramen bahwa harus adapula penilik – penilik dan diaken – diaken, untuk bersama para Gembala untuk menjadi Majelis Gereja, dan dengan cara itu memelihara  Agama yang benar dan memajukan ajaran yang benar juga supaya para pelangar dihukum dan dikendalikan dengan carah rohani dan orang miskin dan susa ditolong serta dihibur sesuai dengan keperluan masing – masing. Dengan sarana ini segala sesuatu dalam Gereja akan berlangsung dengan sopan dan teratur, asal saja orang yang dipilih adalah orang – orang yang setia, dan asal pemilihanya diadakan menurut peraturan yang di berikan Rasul Paulus dalam surat kepada Timotius. Para Pelayan, Penatua, dan Diaken. Kita percaya bahwa para Pelayan Firman Allah, para Penatua, dan Diaken harus dipilih untuk jabatan mereka oleh pemilihan gerejawi yang sah, dengan memanggil nama Allah, dan dengan memakai aturan yang baik, sebagai mana diajarkan oleh Firman Allah, jadi setiap orang harus berhati – hati jangan sampai menyusup masuk dengan cara – cara yang tidak patut. Sebaliknya harus dinantikannya saat ia di panggil Allah, supaya ia mempunyai kesaksian tentang kesaksianya tentang panggilannya, sehinga ia merasa pasti dan yakin, bahwa panggilannya berasal dari Tuhan. Adapun pelayan Firman, dimana saja mereka berada, kuasa dan wewenang yang mereka miliki sama, karena mereka semua adalah hamba Yesus Kristus yang adalah satu – satunya Uskup Am dan satu – satunya Kepala Gereja. Tambahan pula, supaya jangan peraturan Allah yang kudus dilanggar atau dihinakan, maka kita berkata bahwa setiap orang harus menghormati secara istimewa para pelayan Firman dan Para Penatua Gereja, oleh karena pekerjaan yang mereka lakukan, dan sedapat mungkin memelihara damai dengan mereka, tampa sungut pertengkaran atau perselisihan[31].
Ø  Eskatologi dan Parusia:
Akhirnya kita percaya, menurut Firman Allah, bahwa setelah tiba hari yang ditentukan Allah (yang tidak diketahui mahkluk apa pun), dan jumlah orang pilihan sudah genap, maka Tuhan kita Yesus Kristus akan datang dari surga, secara jasmani dan kelihatan, dengan cara yang sama seperti Dia sudah naik kesana (Kis 1:11), dengan kemuliaan dan keagungan yang besar, untuk menyatkan diri-Nya sebagai Hakim orang yang hidup dan yang mati, sambil membakar dunia lama ini dengan api, untuk memunirkannya. Pada waktu itu semua orang akan menghadap Hakim yang Agung itu, baik laki-laki maupun perempuan dan anak-anak, yang telah ada sejak dunia ini sampai akhir zaman, dan mereka akan di panggil mengahadap oleh suara penghulu malaikat dan oleh bunyi sangkakala Allah (1 Tes 4:16). Sebab semua orang yang pada saat itu telah meninggal akan bangkit dari dalam tanah, setelah jiwa-jiwa digabungkan dan dipersatukan dengan tubuhNya sendiri, yang didalamnya mereka pernah hidup. Adapun orang yang pada saat itu masih tidak akan mati sama seperti orang lain, tetapi mereka akan diubah dalam sekejap mata, dan dari keadaan dapat binasa mereka akan beralih ke keadaan tdak dapat binasa. Pada waktu itu kitab-kitab (artinya, hati nurani) akan di buka dan orang-orang mati akan dihakimi (Why 20:12), sesuai dengan yang dilakukannya didunia ini, baik ataupun jahat (2 Kor 5:10). Bahkan orang akan mempertanggungjawabkan setiap kata sia-sia, yang pernah diucapkannya (Mat 12:36), sekalipun oleh dunia kata-kata itu dianggap hanya permainan anak-anak dan perintang waktu saja. Pada waktu itu semua rahasia dan kepura-puraan manusia akan dibuka di muka umum. Oleh karena itu, dengan sewajarnya kesadaran akan hukuman itu menggentarkan dan mengejutkan orang jahat dan fasik, tetapi sangat menggairahkan dan menghibur orang yang saleh dan terpilih, karena pada waktu itu kelepasan mereka yang sempurna akan terlaksana, dan karena di sana akan diterimanya buah perbuatan dan kesusahan yang telah mereka tanggung. Ketidaksalahannya akan diakui oleh semua orang, dan mereka akan melihat pembalasan yang mengerikan, yang akan dilakukan Allah terhadap orang fasik yang telah mengusik mereka dengan kejam, menindas, dan menyiksa mereka di dunia ini. Kesalahan orang fasik itu akan dubuktikan oleh kesaksian hati nurani mereka sendiri. Mereka pun akan mengalami keadaan tidak dapat mati, tetapi begitu rupa, sehingga mereka harus disiksa dalam api yang kekal, yang telah disediakan untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya (Mat 25:41). Sebaliknya, orang-orang percaya dan terpilih akan dimahkotai kemuliaan dan hormat. Anak Allah akan mengaku nama mereka di hadapan Allah, Bapa-Nya (Mat 10:32), dan malaikat-Nya yang terpilih, dan segala air mata akan dihapus dari mata mereka (Why 21:4). Perkara mereka, yang kini dihukum banyak hakim dan lembaga-lembaga pemerintahan, karena dianggap tersesat dan fasik, akan diakui merupakan perkara Anak Allah sendiri. Dan sebagai ganjaran yang penuh kasih karunia, Tuhan akan memberi mereka memiliki kemuliaan yang tak terpikirkan oleh hati manusia. Oleh karena itu, kita menantikan hari agung itu dengan kerinduan besar, agar kita menikmati dengan sepenuhnya janji-janji Allah, dalam Yesus Kristus, Tuhan kita[32].
Ø  Perayaan-perayaan ibadah:
Pada hari-hari itu kenyataan-kenyataan dari sejarah keselamatan yang bersangkutan akan diberitakan[33].
Ø   Babtisan:
Babtisan kudus. Kita percaya mengaku, bahwa Yesus Kristus, yang adalah kegenapan Hukum Taurat (Rm 10:4), oleh penumpahan darah-Nya sudah menamatkan segala penumpahan darah lain, yang mungkin dapat atau hendak dilakukan orang demi pendamaian dan penulasan dosa-dosa, dan bahwa Dia, setelah membatalkan sunat, yang berlangsung dengan darah, menetapkan sakramen itu kita diterima kedalam Gereja Allah, dan dipisahkan dari semua bangsa lain dan agama asing, supaya kita menjadi milik-Nya seluruhnya, yang menyadang tanda pengenal dan panji-Nya. Babtisan itu menjadi kesaksian bagi kita, bahwa Dialah Allah kita untuk selama-lamanya, sebagai Bapa yang murah hati terhadap kita. Maka Kristus memerintahkan membabtis semua orang milik-Nya “dalam Nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus (Mat 28:19), hanya dengan air bersih saja. Dengan demikian Dia menjelaskan kepada kita, sama seperti air membasuh kotoran tubuh waktu kita disiram air, yaitu air yang kelihatan pada tubuh orang yang dibaptis dan yang memerciki dia, begitu juga darah Kristus melakukan hal yang sama secara batin, di dalam jiwa, oleh Roh Kudus, dengan memerciki jiwa dan membersihkannya dari dosa dan dengan melahirkan kita kembali, sehingga dari anak-anak murka menjadi anak-anak Allah. Memang hal itu tidak dikerjakan oleh materi air, tetapi oleh pemercikan dengan darah Anak Allah yang mahal, yang adalah Laut Merah kita, yang kita harus kita lintasi untuk luput dari penindasan Firaun, yaitu Iblis, dan untuk masuk Tanah Kanaan Yang Rohani. Maka para Pelayan di pihak mereka memberi kita sakramen, dan apa yang kelihatan, tetapi Tuhan kita memberikan apa yang ditandai oleh sakrmaen, yaitu semua karunia dan anugerah yang tidak kelihatan, sambil membasuh, menyucikan, dan membersihkan jiwa kita dari segala kotoran dan kesalahan, dan membarui hati kita serta memenuhinya dengan segala hiburan. Dengan demikian diberikan-Nya kepada kita keyakinan yang sungguh-sungguh akan kebaikan-Nya sebagai seorang Bapa, dan kita dibuat-Nya mengenakan manusia baru serta menanggalkan manusia lama bersama segala perbuatannya. Oleh sebab itu, kita percaya, bahwa orang yang hendak masuk ke dalam hidup kekal, hendaknya dibabtis hanya satu kali saja dengan baptisan yang satu-satunya, dengan tidak pernah mengulanginya, sebab mustahil juga kita lahir dua kali. Akan tetapi, baptisan itu tidak hanya berfaedah selama air masih ada pada tubuh kita dan selama kita menerima air itu, tetapi sepanjang masa hidup kita. Oleh karena itu, kita menolak ajaran sesat kaum Anabaptis, yang tidak puas dengan satu baptisan yang pernah diterimanya, dan yang juga menolak keras baptisan anak-anak orang percaya. Menurut keyakinan kita, anak-anak ini patut dibaptis dan dimeteraikan dengan tanda perjanjian, semua seperti anak-anak orang Israel disunat berdasarkan janji-janji yang sama dengan yang diberikan kepada anak-anak kita. Sesungguhnya, Kristus tidak kurang menumpahkan darah-Nya untuk membasuh anak-anak orang percaya dari pada untuk mencuci orang dewasa. Oleh sebab itu, patut mereka menerima tanda dan sakramen dari apa yang telah dilakukan Kristus bagi mereka, sebagaimana dalam hukum Taurat Tuhan memerintahkan agar kepada mereka dibagikan sakramen sengsara dan kematian Kristus tidak lama setelah mereka dilahirkan, dengan mempersembahkan seekor anak domba, yang menjadi sakramen Yesus Kristus. Tambahan pula, apa yang dikejarkan oleh sunat untuk bangsa Yahudi, hal itu juga dikerjakan oleh Baptisan untuk anak-anak kita. Oleh sebab itu, Rasul Paulus menamakan Baptisan itu Sunat Kristus (Kol 2:11)[34]
v  Perjamuan Kudus:
Perjamuan Kudus Tuhan kita Yesus Kristus. Kita percaya dan mengaku, bahwa Juruselamat kita Yesus Kristus telah memerintahkan dan menetapkan perjamuan Kudus, untuk memberi makan dan memelihara mereka yang telah dilahirkanNya kembali dan telah dicongkakanNya menjadi anggota keluarga-Nya yaitu GerejaNya. Didalam orang yang telah dilahirkan kembali itu terhadap kehidupan ganda. Yang satu bersifat jasmani dan sementara; mereka membawahnya sejak kelahirannya yang pertama, dan kehidupan itu dimiliki semua orang. Yang lain bersifat rohani dan surgawi; mereka dianugrahi kehidupan itu pada kelahiran kedua, yang dikerjakan oleh Firman Injil, dalam persekutuan dengan tubuh Kristus. Kehidupan yang kedua ini hanya menjadi milik orang-orang pilihan Allah semata-mata. Maka untuk memelihara kehidupan jasmani dibumi ini, Allah telah menetapkan bagi kita Roti biasa dari bumi ini, yang berguna untuk kehidupan jasmani dan menjadi yang milik semua orang sama seperti kehidupan itu sendiri. Tetapi untuk memelihara kehidupan rohani dan sorgawi, yang dimiliki orang Percaya, Allah mengutus kepada mereka roti yang hidup, yang telah turun dari sorga yaitu Yesus Kristus. Dia mengasuh dan memelihara kehidupan rohani orang percaya pada waktu dia makan, artinya dijadikan milik dan diterima oleh iman, secara rohani. Untuk mengambarkan roti rohani dan surgawi itu bagi kita, Kristus telah menetapkan satu roti jasmani yang kasatmata, yang merupakan sakramen tubuh-Nya, dan air anggur, menjadi sakramen darah-Nya maksud-Nya untuk menyaksikan kepada kita, bahwa sama seperti kita menerima sakramen itu dan memegahkannya dengan tanggan kita serta memakan dan meminumnya dengan mulut kita, sehingga sesudahnya kehidupan kita terpelihara dengannya, begitu juga kita pasti menerima melalui iman (yang merupakan tangan dan mulut jiwa kita) tubuh sejati dan darah sejati Yesus Kristus, satu-satunya juselamat kita, untuk kehidupan kita yang rohani. Jadi, pasti dan tidak dapat diragu-ragukan, bahwa Yesus Kristus tidak sia-sia menganjurkan sakramen-sakramen-Nya kepada kita. Maka demikianlah dikerjakan dalam diri kita segala sesuatu yang dihadirkan-Nya didepan mata kita melalui tanda-tanda yang kudus ini, meskipun caranya melampaui akal budi kita dan tidak dapat kita pahami sebagaimana juga cara kerja Roh Kudus tersembunyi dan tidak terpahami. Walaupun begitu, tidak keliru kalau kita berkata, bahwa apa yang kita makan dan minum itu adalah tubuh Kristus sendiri, yang asli dan darah-Nya sendiri, tetapi cara kita makan tubuh dan darah itu bukan cara mulut, melainkan cara roh, oleh iman. Jadi, Yesus Kristus tetap duduk disebelah kanan Allah Bapa-Nya, disurga, namun hal itu tidak mencegah Dia membagikan diri-Nya kepada kita oleh iman kita perjamuan ini meja rohani, dan pada meja itu Kritus membagikan diri-Nya bersama segala harta-Nya kepada kita. Padanya Kristus membuat kita menikmati diri-Nya maupun jasa sesangsara dan kematian-Nya. Dia mengasuh, menguatkan, dan menghibur jiwa kita yang malang dan putus asa dengan memberi makan, yaitu tubuh-Nya, dan menyegarkan serta menyenangkan jiwa kita dengan minuman yaitu darah-Nya. Selanjutnya, meskipun sakramen-sakramen dan hal-hal yang ditandai olehNya digabung menjadi satu hal saja, tidak semua orang menerima sakramen-sakramen itu bersama kedua hal tersebut. Orang fasik memang meneriman sakramen menjadi hukuman baginya, tetapi ia tidak menerima kebenaran yang diungkapkan dalam sakramen itu, sama seperti Yudas dan Simon si tukan sihir, yang memang telah menerima sakramen, namun tidak menerima Kristus, yang ditandai olehnya yang hanya dibagikan kepada orang-orang percaya. Akhirnya, kita menerima sakramen yang kudus itu ditengah perhimpunan umat Allah, dengan rendah hati dan rasa hormat, dengan mengadakan acara suci peringatan kematian Kristus, juruselamat kita, disertai pengucapan syukur, dan disitu kita mengikrarkan pengakuan iman kita dan agama Kristen. Oleh sebab itu, jangan seorang pun menghampiri perjamuan itu tanpa memuji dirinya baik-baik lebih dahulu, supaya jangan, dengan makan roti ini dan minum dari cawan ini, ia mendatangkan hukuman atas dirinya (1 Korintus 11:29). Pendeknya, oleh pemakai sakramen yang Kudus ini kita digerakan pada kasih yang menyala-nyala terhadap Allah dan sesama kita manusia. Oleh karena itu, kita menolak semua unsur campuran dan rekaan terkutuk, yang ditambahkan dan dicampurkan oleh manusia pada sakramen-sakramen itu, karena pada hemat kita unsur-unsur itu menajiskan sakramen-sakramen. Dan kita berkata, hendalah orang puas dengan aturan yang diajarkan kepada kita oleh Kristus dan Rasul-Rasul-Nya, dan berbicara tentangNya sesuai dengan cara mereka bicara tentangNya[35].
v  Perpuluhan:
Pengudusan manusia dan perbuatan-perbuatan baik. Kita percaya, bahwa iman yang sejati itu, yang dihasilkan dalam hati manusia oleh pendengaran akan Firman Allah dan oleh pekerjaan Roh Kudus, membuat manusia lahir kembali dan menjadi manusia baru, membuatnya hidup dalam kehidupan yang baru dan memerdekakannya dari perhambaan dosa. Oleh sebab itu, iman yang membenarkan itu sekali-kali tidak mengurangi gairah manusia untuk hidup saleh dan suci. Sebaliknya, tanpa iman itu manusia tidak akan berbuat sesuatu apa pun oleh kasih kepada Allah. tetapi hanya oleh kasih kepada diri sendiri dan karena takut dihukum. Jadi, mustahil iman Kudus itu menganggur dalam diri manusia, mengingat kita tidak berbicara tentang iman yang hampa, tentang iman yang oleh Alkitab disebut iman yang bekerja oleh kasih (Gal 5:6). Iman ini menggerakkan manusia agar mengupayakan perbuatan-perbuatan yang diperintahkan Allah dalam Firman-Nya. Perbuatan-perbuatan itu baik dan berkenan kepada Allah jika bertumbuh dari akar iman yang baik, karena semuanya telah dikuduskan oleh kasih karunia-Nya. Dalam pada itu, perbuatan-perbuatan itu tidak masuk perhitungan untuk membenarkan kita, sebab oleh iman kepada Kristus maka kita dibenarkan, bahkan sebelum kita melakukan perbuatan baik, sebagaimana tidak mungkin buah pohon dapat menjadi baik sebelum pohon itu baik. Jadi, kita melakukan perbuatan baik, tetapi bukan dengan maksud memperoleh upah, sebab upah apa yang layak kita peroleh? Tetapi kita malah wajib berterima kasih kepada Allah atas perbuatan baik yang kita lakukan, dan bukannya Dia yang harus berterima kasih kepada kita, karena Dialah yang mengerjakan di dalam kita baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya (Flp 2:13). Maka baiklah kita memperhatikan apa yang tertulis, Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang tugaskan kepadmu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melaukan apa yang kami harus lakukan (Luk 17:10). Sementara itu, kita tidak hendak menyangkal bahwa Allah menggajar perbuatan-perbuatan baik. Akan tetapi, oleh kasih karunia-Nya dimahkotai-Nya pemberian-Nya. Lagi pula, meskipun kita melakukan perbutan baik, kita tidak menjadikannya dasar keselamatan kita, sebab kita tidak dapat melakukan satu perbuatan pun yang tidak dicemari oleh daging kita dan patut mendapat hukuman. Dan jikalau sekalipun kita dapat menunjukkan satu perbuatan yang baik, namun kenangan pada satu dosa pun sudah cukup untuk menyebabkan Allah menolak perbuatan itu. Oleh karena itu, kita akan selalu bimbang, terombang-ambing, tanpa kepastian apa pun, dan hati nuarani kita yang malang selalu tersiksa, jika tidak bertumpu pada jasa yang terdapat dalam sengsara dan kematian Juruselamat kita[36].

2.5. Rekrutmen Hamba Tuhan


Pendidikan Sekolah Tinggi Teologi (STT)-Akademis, ada dua yaitu STT di NTT dan STT di Kalimatan Barat. Sebelumnya STM (Sekolah Teologi Menengah), dan yang mendidik mereka adalah Misioner[37].
Ø  Untuk Jabatan Pendeta:
Calon Pendeta harus melalui ujian preparatory yaitu ujian pemeriksaan ajaran, Kelakukan Calon yang dipanggil oleh jemaat dan masa praktek selama 3 Tahun. Setelah lulus ujian preparatory kemudian disebut calon Pendeta. Setelah itu jemaat rekomendasikan untuk mengikuti ujian peremptor. Ujian Premptor ialah pemeriksaan seluruh pengetahuan Teologi dan motivasi menjadi Pendeta. Setelah lulus ujian peremptor dipanggil dengan sebutan Pendeta atau Pelayan Firman lalu diipanggil oleh Jemaat dan diteguhkan dalam jabatan Pendeta dijemaat tersebut[38]. GGRI-P menerima Pendeta yang tamatan dari STT lain, namun ia akan melalui tes atau ujian di Klasis, dan setelah itu barulah diputuskan dan diterima di GGRI-P[39].




BAB III

PENUTUP

3.1.  Tanggapan Kelompok.

Meskipun dominasi gereja kita berbeda, kita sama-sama mempercayai Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita. Dan jemaat GGRI-P mereka kerja sama dengan  baik, dalam membangun persekutuan mereka.

3.2.  Saran

GGRI-P belum pernah mengalami persoalan politik dan mereka hanya focus pada pelayanan didalam jemaat. Sikap ini patut untuk kita contohi.
































Daftar Pustaka

*      Riemer, Gerrit.Gereja-gereja Reformasi Di Indonesia. Jakarta: Bpk. Gunung Mulia, 2009.
*      Van Den End, Th. Enam Belas Dokumen Dasar Calvinisme .Jakarta: Bpk. Gunung Mulia, 2004.
*      Wawancara: Pdt. Yan R. Wambraw, M.Th. Minggu 5 November 2017.
*      Wawancara: Pdt. Yan R. Wambraw, M.Th. Rabu 22 November 2017.



[1] Gerrit Riemer, Asal Sejarah dan Identitasny Gereja-Gereja Reformasi di Indonesia: Jakarta (Bpk.Gunung Mulia, 2009), hlm,1.
[2] Ibid, hlm 3.
[3] Gerrit Riemer, Asal Sejarah dan Identitasny Gereja-Gereja Reformasi di Indonesia: Jakarta (Bpk.Gunung Mulia, 2009), hlm, 15-16.
[4] Gerrit Riemer,Asal Sejarah dan Identitasny Gereja-Gereja Reformasi di Indonesia Jakarta (Bpk.Gunung Mulia,2009), hlm, 16
[5] Ibid, hlm, 17.
[6] Ibid, hlm, 19.
[7] Gerrit Riemer,Asal Sejarah dan Identitasny Gereja-Gereja Reformasi di Indonesia : Jakarta (Bpk.Gunung Mulia,2009), hlm,20
[8]Gerrit Riemer, Asal Sejarah dan Identitasny Gereja-Gereja Reformasi di Indonesia: Jakarta (Bpk.Gunung Mulia, 2009), hlm, 27.
[9] Ibid,  hlm,25-26.
[10] [10] Gerrit Riemer, Asal Sejarah dan Identitasny Gereja-Gereja Reformasi di Indonesia: Jakarta (Bpk.Gunung Mulia, 2009), hlm,91.
[11] Gerrit Riemer,Asal Sejarah dan Identitasny Gereja-Gereja Reformasi di Indonesia (Bpk.Gunung Mulia,2009), hlm,91-94
[12] Ibid, hlm, 93-95.
[13]Gerrit Riemer, Asal Sejarah dan Identitasny Gereja-Gereja Reformasi di Indonesia: Jakarta (Bpk.Gunung Mulia, 2009), hlm, 95-96.
[14] Wawancara: Pdt Yan R. Wambraw, M.Th. Rabu 22 November 2017
[15] Wawancara: Pdt Yan R. Wambraw, M.Th. Minggu 5 November 2017
[16]Ibid Wawancara
[17] Ibid Wawancara
[18] Ibid Wawancara
[19] Ibid Wawancara
[20] Ibid Wawancara
[21] Ibid Wawancara
[22] Th. Van den End, Enam Belas Dokumen Dasar Calvinisme Jakarta (Bpk.Gunung Mulia, 2004),hlm, 383.
[23] Th. Van den End, Enam Belas Dokumen Dasar Calvinisme: Jakarta (Bpk.Gunung Mulia, 2004), 383.
[24] Ibid, hlm, 386.
[25] Wawancara: Pdt Yan R. Wambraw, M.Th. Minggu 5 November 2017
[26] Ibid: wawancara
[27] Ibid: wawancara
[28] Ibid: wawancara
[29] Th. Van den End,Enam Belas Dokumen Dasar Calvinisme : Jakarta (Bpk.Gunung Mulia,2004), hlm,26-27.

[30] Th. Van den End,Enam Belas Dokumen Dasar Calvinisme : Jakarta (Bpk.Gunung Mulia,2004), hlm,20-23.

[31] Th. Van den End,Enam Belas Dokumen Dasar Calvinisme : Jakarta (Bpk.Gunung Mulia,2004), hlm,43-47.
[32] Th. Van den End,Enam Belas Dokumen Dasar Calvinisme : Jakarta (Bpk.Gunung Mulia,2004), hlm,54-56.
[33] Wawancara: Pdt Yan R. Wambraw, M.Th. Minggu 5 November 2017
[34] Th. Van den End,Enam Belas Dokumen Dasar Calvinisme : Jakarta (Bpk.Gunung Mulia,2004), hlm,48-50.
[35] Th. Van den End,Enam Belas Dokumen Dasar Calvinisme : Jakarta (Bpk.Gunung Mulia,2004), hlm,50-53.
[36] Th. Van den End,Enam Belas Dokumen Dasar Calvinisme : Jakarta (Bpk.Gunung Mulia,2004), hlm,39-40.
[37] Wawancara: Pdt Yan R. Wambraw, M.Th. Rabu 22 November 2017.
[38] Wawancara: Pdt Yan R. Wambraw, M.Th. Minggu 5 November 2017.
[39] Wawancara: Pdt Yan R. Wambraw, M.Th. Rabu 22 November 2017.

Komentar

Ilmu Pengetahuan

YESUS mengutuk Pohon Ara

Teologi Kontekstual di Eropa

Tafsiran Filipi